Kamis, 17 Januari 2013

pesan ibu

aku terus berjalan menyusuri gelap malam. dengan badan basah kuyup, kegelapan yang menerangi, serta dinginnya malam yang menyelimuti ku. namun wajah ku terasa hangat oleh bulir-bulir air mata yang terus meleleh, aku memaksakan terus berjalan sebelum malam semakin larut dan bulan tidak menampakkann dirinya lagi.
"damn!" teriak ku dalam hati sambil menangis, " cuma cewe gila kaya gue yang jalan jam 11 kaya gini!! anjrit, dingin banget!" isak ku sambil memaki diri ku. aku benar-benar marah malam itu pada diri ku sendiri. aku tidak habis pikir aku memutuskan untuk kembali ke rumah, padahal rumah ku begitu jauh dari hotel tempat aku menginap. beralaskan heels, aku terus berjalan.
aku tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini, sahabat ku sendiri menusuk ku dari belakang. dengan senyum sangat manja dia terlihat menyandarkan kepalanya di pundak Mario. aku membenci dia sejak saat itu. dia tahu apa isi hati ku dan aku baru saja mencurahkan perasaan ku padanya, dia tahu bagaimana mata ku berbicara. namun ya, mungkin memang tidak semua orang harus kita percaya. salah ku mengenalkan Mario pada nya.

-beep beep-
handphone ku bergetar, aku melirik ke dalam tas ku. Adik ku menelepon ku
"lagi dimana kak? katanya pulang?" kata adiku dari seberang sana, suaranya khawatir "daritadi nomor lo ngga nyambung. kemana deh?"
"um.. um.. gue.. gue masih di jalan. ngga ada angkutan umum.."
"duh, lo bego atau gila sih! ini hujan, malem, dingin, dan lo cewe! tunggu gue disitu. cari mini market atau apapun, tunggu disitu. jangan kemana-mana! gue jemput lo sekarang!"
adik ku mematikan handphonenya, aku menoleh sekeliling ku. aku beruntung ada sevel di daerah itu, beberapa anak muda sedang duduk-duduk mengobrol sambil mengusir dinginnya malam dengan minuman panas mereka. aku ingin masuk, namun baju ku basah kuyup dengan tatanan rambut yang berantakan. aku memilih menunggu diluar. 15 menit kemudian adik ku datang
"duh kak, kenapa ngga ngabarin sih. ini pake jaket gue. lo masuk ke mobil aja sekarang, gue beliin lo minuman panas dulu. udah makan?" tanya adik ku setengah marah
aku menggeleng, "gue ngga laper"
"udah masuk sana! tunggu gue di dalam.. duh, mana pake heels gini lagi nih orang"
aku masuk, aku terpaksa menurut kepada adik laki-laki ku Tommy. Dia kembali membawa Cappucino latte, aku menyeruputnya. lumayan panas namun lumayan menghangatkan tubuh ku
"nyokap khawatir sama lo, kalo lo mau tidur.. tidur aja nanti sampe rumah gue bangunin.."
aku mengangguk saja, memang yang aku butuhkan adalah beristirahat. kepala ku sangat sakit badan ku juga terasa panas.

----
"selamat pagi, Nindi" sapa ibu
"aduuh, silau bu.." ujar ku, "loh aku udah di tempat tidur"
"iya, kemarin Tommy ngga tega bangunin kamu. kamu lemes banget katanya, yaudah digendong sama dia"
"tumben itu anak baik sama aku.."
"eeh ini anak adiknya sendiri yang baik, malah digituin.." Ibu duduk disebelah ku, "gimana keadan kamu?"
"kepala Nindi pusing banget bu.."
"ibu ambilin sarapan dulu ya"
aku duduk di tempat tidur ku, menengok ke sebelah kiri. matahari sudah menampakkan wajahnya, aku sengaja mematikan handphone ku. pasti pagi ini banyak yang ingin mengetahui kabar ku. aku mengcancel semua meeting ku lewat sekertaris ku. hari ini cerah, tidak seperti biasanya yang mendung. mungkin pagi ini matahari ingin lebih lama menyapa bumi mungkin matahari merindukan bumi setelah seharian kemarin tertidur pulas dibalik awan atau matahari ingin ikut membantu ku, menyemangati dan memberitahu kepada ku bahwa aku memang aku harus menikmati dia lewat jendela kamar ku. kalau saja matahari bisa berkata, mungkin dia akan mengatakan bahwa dia ada untuk menyinari hati ku yang masih hujan dan untuk mempercepat kesembuhan ku.
ibu datang dengan roti bakar keju coklat kesukaan ku dan segelas jus jeruk.
"makasih bu.." aku mengambil jus jeruknya, "um enak.." aku mencubit roti nya dan memasukkan ke dalam mulut ku
"kamu ini kenapa toh ndo?" tanya ibu
"kenapa? emang aku kelihatan kenapa bu? Nindi kecapean aja kok"
"masih bisa bohong sama ibu?"
"ibu, gimana ya rasanya dibohongin sama sahabat sendiri. dikhianati sama sahabat sendiri? Dia tahu perasaan Nindi tapi dia malah nyakitin Nindi bu.."
"hm.." Ibu mengelus rambut ku, "Nindi sayang, dengan siapapun kamu berteman dengan siapapun kamu bersahabat yang harus kamu ingat satu hal nak, mereka adalah orang lain. kamu boleh menganggap dia saudara mu, tapi dia bukanlah sahabat mu. lebih baik menjadi seorang sahabat tanpa mengharap balik kalau dia menganggap mu sahabat. sahabat terbaik tetaplah keluarga dan Tuhan sayang.. jadi, tetaplah tersenyum dan bersikap baik padanya"
"tapi bu, sulit..""iya ibu tahu ini sulit, ini proses pendewasaan kepribadian mu sayang.. kamu udah dewasa, permasalahan kamu bukanlah hal yang seperti ini. kamu sudah harus bisa memikirkan segala sesuatunya menggunakan logika kamu, tapi manusia tidak bisa hidup hanya dengan logika. untuk itulah kamu ber-Tuhan, kamu tetap menggunakan nurani kamu. ibu tahu kamu pasti bisa kok, ini ngga sulit. sebelum kamu berkembang sampai pada batas ini, kamu pasti pernah mengalami berbagai problem pada tahap remaja mu.. kamu hanya butuh me-recall kembali ingatan-ingatan dari memori kamu dan jadikanlah pelajaran. ibu percaya Nindi bisa kok"
aku tersenyum lega, terimakasih Ibu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar