Hip hip hura hura.. u,u aku suka dia u,u
Yap lagu itu lagi suka-sukanya
gue dengerin loh, apa ya? Bikin semangat sendiri aja sih.
Malam ini gue lagi ngobrol sama
Kang Mas, yaa like always lah dari obrolan sampah sampai punya intisari buah.
Wehehe. Tapi dari semua obrolan, yg buat gue tertarik adalah ketika membahas
rekan kerjanya, yaitu Fela. Who is she? YA MANA GUE TAU, gue ngga kenal dan
ngga pernah liat juga. Tapi kalo inget nama itu, gue jadi inget temen gue yg
namanya sama. Ya, doi temen sma gue. Dia jago basket, tomboy parah, ngga kenal
sama rok *at least dia paling ngga suka di suruh pake rok. Kalo bukan karena
inget sekolah, mungkin dia bakal pake celana panjang abu-abu buat sekolah*,
tapi mellow, dia ngga bisa mutusin keputusan sendiri, dia uniklah intinya. Yaa
menurut gue, tersangka Fela yang diceritakan kangmas juga unik sih, bahkan yang
paling buat gue bisa tersenyum adalah ketika si kangmas bisa bilang ,’dia itu
tipe orang yang ROBOTIK, dek’ wooooooooooooaw gue bener-bener mau liat doi loh
jadinya. Kaya apa sih jadinya.
Sebut saja nama gadis belia yang
cantik ini Mawar, si Mawar adalah anak pertama dari 8 bersaudara, orangtuanya
terbilang cukup mengenal kepribadian anaknya, namun kurang dekat dengan anaknya
juga. Nah loh? Mawar tumbuh menjadi gadis yang tidak haus akan kasih sayang,
ketika terjadi suatu kejadian dimana dia ketauan mencuri gelang milik temannya,
apesnya si Mawar doi nyolong pas smp. Tau lah ya, anak smp tuh kaya apa
kelakuannya kalo temennya udah buat salah, udah macem temennya masuk dalam
sindikat perguruan tinggi merakit bom aja kan tuh. Pokoknya salaaaah lah dimata
temennya ini padahal mungkin maksud si Mawar adalah meminjam gelang temannya,
sejak saat itu dia TERBIASA untuk sendiri dan memendam apa yang dia rasakan,
ketika melihat orang yang superior (kuat-red) dibanding dia, dia akan merasa
nyaman dengan orang tersebut dan merasa dilindungi dan akan melakukan apa yang
orang itu lakukan karena dia merasa orang itu benar (inget sama kebutuhan
manusia lagi loh J) nah, karena
kebutuhannya terpenuhi kepribadian yang selalu berharap pada orang lain pun
menjadi sebuah dinamisme dalam dirinya. Semakin terbiasa terbiasa dan sampai
pada kesadarannya, dia pun memperoleh gambaran tentang dirinya bahwa dirinya
tidak akan bisa tanpa oran lain (PERSONIFIKASI). Setelahnya? Sistem dirinya
(sistem self) akan membentuk sebuah pertahanan apabila ada keadaan yang memaksa
dia untuk berkerja sendiri. Seperti acuh atau mengabaikan apa yang orang
katakan tentang dirinya (misalnya: eh gue hebat loh gue bisa ini bisa itu gue
juga bisa begini dan bisa begitu *busung dada*| halaah hebat dari hongkong,
biasa aja pun| lalu orang lain bilang kalo dia dibilang biasa aja | eh masa
kata si anu lo biasa aja loh.. mana nih yang bener? | ih, itumah dia yang
salah.. gue hebat kok *masih busung dada, gue curiga bentar lagi dia bakal
busung lapar weheheh*
Begitulah struktur kepribadian
orang terbentuk menurut om Sullivan. Jadi bagaimana diri lo, adalah hasil dari
pemikiran lo terhadap diri lo. NGERTI? Ngga kan? Gue juga ngga. Hehe tapi
intinya apa yang lo pikirkan dalam diri lo adalah gambaran diri lo
sesungguhnya, makanya hati-hati sama kekuatan pikiran.
Nah kalo menurut om Erich Fromm,
karakter masayarakat itu dibagi jadi 2 nih produktif dan non-produktif. Yang
produktif ini adalah orang-orang yang punya keyakinan akan dirinya, dia peduli
dengan orang lain, dia kreatif, dan berjiwa inovatif. Sedangkan yang tidak
produktif digambarkan dengan orang-orang yang kurang inisiatif, kikir,
tertutup, selalu menggunkan\memanfaatkan orang lain, hanya bisa menjual apa
yang dia punya tanpa bisa berinovasi. Sebenernya kata om Erich juga, ngga
mutlak loh si-A ini produktif dan si-B non produktif. Tapi dalam tubuh manusia
terdapat dua unsur ini. Nah si om Erich juga ngebahas soal mekanisme pelarian
diri dari kebebasan. Kata doi, orang yang mentalnya sehat adalah orang yang
mempu berkerja produktif sesuai dengan tuntutan lingkungannya, sekaligus mampu
berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang pentuh cinta. Keadaan normalitas
itu, dimana keadaan optimal dari pertumbuhan dan kebahagiaan dari individu,
jadi ketika inidividu bisa mengoptimalkan pertumbuhan kemandirian (kebebasan)
dia dan kebahagiaan dirinya dia ada dalam keadaan normal. Dan ya, lagi-lagi ini
menurut si om Erich yaa.
Nah ada 2 cara buat memperoleh
makna dan kebersamaan dalam kehidupan. Pertama, mencapai kebebasan yang positif
dan bersatu dengan orang lain tanpa mengorbankan kebebasan (privacy) individu
dan integritas pribadinya. Kedua, memperoleh rasa aman dengan meninggalkan
kebebasan dan menyerahkan seutuhnya ke-individualitasnya kepada suatu hal atau
orang yang dapat memberi rasa aman. Nah cara semacam ini karena dia merasa
tidak berdaya dan caranya juga dengan berlindung di bawah kekuatan orang lain,
nah ini yang disebut mekanisme pelarian. Ini bisa dipakai sekali waktu. Nah ada
3 nih jenisnya : otoritarianisme (dia nih bergabung sama orang lain untuk
memperoleh kekuatan yang dirasa tidak dimilikinya atau dia bergantung pada
orang lain, yaa padahal dia bisa melakukan hal itu), trus ada perusakan (ini
akarnya karena dia merasa kesepian adn ngga berdaya. Maka dia mencari kekuatan
bukan sama orang lain, tapi dengan cara bales dendam. Nah kalo dia bisa balas
dendam, ada rasa puas dalam dirinya kalau dia bisa lebih dari orang lain), nah
yang ketiga ini namanya penyesuaian ( kalo ini lebih halus sih ya, jadi dia
menyerahkan dirinya dan jadi apa aja kaya yang orang lain mau. Orang bilang a,
ya dia a. Orang bilang b, ya dia b. Semacam ngga punya pendirian gitulah)
Nah sebenernya, kepribadian
manusia itu terbentuk memang dari lahir. Tapi kita juga harus ingat bahwa
ketika manusia lahir dia tidak lagi bergantung pada tali pusar ibunya, dia
harus mandiri dan sebenarnya hak dia untuk menentukan mau jadi seperti apa dia.
Tapi berhubung bayi ngga bisa seperti itu, maka figur keluarga, teman, sahabat,
lingkungan yang akan memproses kepribadiannya seiring perkembangan kognitifnya.
Ini ngga terlepas dari fisiologi tubuh dia juga lah ya, makanya kepribadian
bisa dibilang bawaan lahir. Karena yang paling banyak mempengaruhi adalah
memang apa yang diwariskan oleh orangtuanya kepada dia.
Jadi manusia itu bener-bener unik J












































