Rabu, 30 Mei 2012

Manusia itu Unik :)



Hip hip hura hura.. u,u aku suka dia u,u
Yap lagu itu lagi suka-sukanya gue dengerin loh, apa ya? Bikin semangat sendiri aja sih.
Malam ini gue lagi ngobrol sama Kang Mas, yaa like always lah dari obrolan sampah sampai punya intisari buah. Wehehe. Tapi dari semua obrolan, yg buat gue tertarik adalah ketika membahas rekan kerjanya, yaitu Fela. Who is she? YA MANA GUE TAU, gue ngga kenal dan ngga pernah liat juga. Tapi kalo inget nama itu, gue jadi inget temen gue yg namanya sama. Ya, doi temen sma gue. Dia jago basket, tomboy parah, ngga kenal sama rok *at least dia paling ngga suka di suruh pake rok. Kalo bukan karena inget sekolah, mungkin dia bakal pake celana panjang abu-abu buat sekolah*, tapi mellow, dia ngga bisa mutusin keputusan sendiri, dia uniklah intinya. Yaa menurut gue, tersangka Fela yang diceritakan kangmas juga unik sih, bahkan yang paling buat gue bisa tersenyum adalah ketika si kangmas bisa bilang ,’dia itu tipe orang yang ROBOTIK, dek’ wooooooooooooaw gue bener-bener mau liat doi loh jadinya. Kaya apa sih jadinya. 

Hari ini, gue mempresentasikan soal tipe kepribadian om Erich Fromm. Om ini hobi ngebahas soal hubungan sosial masyarakat, maka tipologi (tipe-red) nya pun disebut tipologi masyarakat. Si om banyak bahas soal karakter masyarakat, karakter sosial, eksistensi manusia. Dan gue ngerasa itu manusia sekarang banget, bahkan gue sempet berkaca dari teori dia. Well, memang manusia itu sangat dinamis. Gue pinjem teorinya mas Stack Sullivan kalau struktur kepribadian manusia itu salah satunya ada dinamisme, semacam kebiasaan gitu dan ini timbul untuk memenuhi kebutuhannya (untuk mendapat rasa nyaman). Dinamisme (kebiasaan-red) yang terus menerus dilakukan akan menjadi sebuah personifikasi (gambaran tentang bagaimana sih diri itu dan orang lain-red). Setelahnya, menjadi sebuah sistem self (kekonsistenan dari personifikasi itu nah tapi kalo disini itu udah sampe tahap mempertahankan diri atau keamanan interpersonal dia dan mengecilkan terjadinya kecemasan-red). Nah seperti inilah manusia, balik sama kasus orang yang kaku, sangatlah mekanis, terkesan selalu disuruh untuk melakukan suatu hal. Bisa saja, dimasa lalunya orang ini pada awalnya pernah mengalami suatu kecemasan yang luar biasa dan dia ingin merasa nyaman (ingat loh, pada dasarnya manusia itu ingin merasa nyaman dan aman, ini juga termasuk kebutuhan dasar manusia miliknya om Masllow). Nih gue kasih ilustrasi yaa..

Sebut saja nama gadis belia yang cantik ini Mawar, si Mawar adalah anak pertama dari 8 bersaudara, orangtuanya terbilang cukup mengenal kepribadian anaknya, namun kurang dekat dengan anaknya juga. Nah loh? Mawar tumbuh menjadi gadis yang tidak haus akan kasih sayang, ketika terjadi suatu kejadian dimana dia ketauan mencuri gelang milik temannya, apesnya si Mawar doi nyolong pas smp. Tau lah ya, anak smp tuh kaya apa kelakuannya kalo temennya udah buat salah, udah macem temennya masuk dalam sindikat perguruan tinggi merakit bom aja kan tuh. Pokoknya salaaaah lah dimata temennya ini padahal mungkin maksud si Mawar adalah meminjam gelang temannya, sejak saat itu dia TERBIASA untuk sendiri dan memendam apa yang dia rasakan, ketika melihat orang yang superior (kuat-red) dibanding dia, dia akan merasa nyaman dengan orang tersebut dan merasa dilindungi dan akan melakukan apa yang orang itu lakukan karena dia merasa orang itu benar (inget sama kebutuhan manusia lagi loh J) nah, karena kebutuhannya terpenuhi kepribadian yang selalu berharap pada orang lain pun menjadi sebuah dinamisme dalam dirinya. Semakin terbiasa terbiasa dan sampai pada kesadarannya, dia pun memperoleh gambaran tentang dirinya bahwa dirinya tidak akan bisa tanpa oran lain (PERSONIFIKASI). Setelahnya? Sistem dirinya (sistem self) akan membentuk sebuah pertahanan apabila ada keadaan yang memaksa dia untuk berkerja sendiri. Seperti acuh atau mengabaikan apa yang orang katakan tentang dirinya (misalnya: eh gue hebat loh gue bisa ini bisa itu gue juga bisa begini dan bisa begitu *busung dada*| halaah hebat dari hongkong, biasa aja pun| lalu orang lain bilang kalo dia dibilang biasa aja | eh masa kata si anu lo biasa aja loh..  mana nih yang bener? | ih, itumah dia yang salah.. gue hebat kok *masih busung dada, gue curiga bentar lagi dia bakal busung lapar weheheh*

Begitulah struktur kepribadian orang terbentuk menurut om Sullivan. Jadi bagaimana diri lo, adalah hasil dari pemikiran lo terhadap diri lo. NGERTI? Ngga kan? Gue juga ngga. Hehe tapi intinya apa yang lo pikirkan dalam diri lo adalah gambaran diri lo sesungguhnya, makanya hati-hati sama kekuatan pikiran.

Nah kalo menurut om Erich Fromm, karakter masayarakat itu dibagi jadi 2 nih produktif dan non-produktif. Yang produktif ini adalah orang-orang yang punya keyakinan akan dirinya, dia peduli dengan orang lain, dia kreatif, dan berjiwa inovatif. Sedangkan yang tidak produktif digambarkan dengan orang-orang yang kurang inisiatif, kikir, tertutup, selalu menggunkan\memanfaatkan orang lain, hanya bisa menjual apa yang dia punya tanpa bisa berinovasi. Sebenernya kata om Erich juga, ngga mutlak loh si-A ini produktif dan si-B non produktif. Tapi dalam tubuh manusia terdapat dua unsur ini. Nah si om Erich juga ngebahas soal mekanisme pelarian diri dari kebebasan. Kata doi, orang yang mentalnya sehat adalah orang yang mempu berkerja produktif sesuai dengan tuntutan lingkungannya, sekaligus mampu berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang pentuh cinta. Keadaan normalitas itu, dimana keadaan optimal dari pertumbuhan dan kebahagiaan dari individu, jadi ketika inidividu bisa mengoptimalkan pertumbuhan kemandirian (kebebasan) dia dan kebahagiaan dirinya dia ada dalam keadaan normal. Dan ya, lagi-lagi ini menurut si om Erich yaa.

Nah ada 2 cara buat memperoleh makna dan kebersamaan dalam kehidupan. Pertama, mencapai kebebasan yang positif dan bersatu dengan orang lain tanpa mengorbankan kebebasan (privacy) individu dan integritas pribadinya. Kedua, memperoleh rasa aman dengan meninggalkan kebebasan dan menyerahkan seutuhnya ke-individualitasnya kepada suatu hal atau orang yang dapat memberi rasa aman. Nah cara semacam ini karena dia merasa tidak berdaya dan caranya juga dengan berlindung di bawah kekuatan orang lain, nah ini yang disebut mekanisme pelarian. Ini bisa dipakai sekali waktu. Nah ada 3 nih jenisnya : otoritarianisme (dia nih bergabung sama orang lain untuk memperoleh kekuatan yang dirasa tidak dimilikinya atau dia bergantung pada orang lain, yaa padahal dia bisa melakukan hal itu), trus ada perusakan (ini akarnya karena dia merasa kesepian adn ngga berdaya. Maka dia mencari kekuatan bukan sama orang lain, tapi dengan cara bales dendam. Nah kalo dia bisa balas dendam, ada rasa puas dalam dirinya kalau dia bisa lebih dari orang lain), nah yang ketiga ini namanya penyesuaian ( kalo ini lebih halus sih ya, jadi dia menyerahkan dirinya dan jadi apa aja kaya yang orang lain mau. Orang bilang a, ya dia a. Orang bilang b, ya dia b. Semacam ngga punya pendirian gitulah)

Nah sebenernya, kepribadian manusia itu terbentuk memang dari lahir. Tapi kita juga harus ingat bahwa ketika manusia lahir dia tidak lagi bergantung pada tali pusar ibunya, dia harus mandiri dan sebenarnya hak dia untuk menentukan mau jadi seperti apa dia. Tapi berhubung bayi ngga bisa seperti itu, maka figur keluarga, teman, sahabat, lingkungan yang akan memproses kepribadiannya seiring perkembangan kognitifnya. Ini ngga terlepas dari fisiologi tubuh dia juga lah ya, makanya kepribadian bisa dibilang bawaan lahir. Karena yang paling banyak mempengaruhi adalah memang apa yang diwariskan oleh orangtuanya kepada dia.
Jadi manusia itu bener-bener unik J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar