aku masi terus memperhatikannya, wajahnya sembab dan senyumnya tidak setulus biasanya. ya aku tau kejadian pahit yang baru saja menimpanya. dia baru saja kehilangan kekasih yang dikasihinya, setelah sekian tahun menjalani hubungan percintaan, maut akhirnya memisahkan mereka karena sang pacar mengalami serangan jantung mendadak dan harus pergi menghadap Sang Pencipta. ya, ironis memang ketika si wanita mengidap penyakit yang sama dengan sang pacar dan dipisahkan dengan penyakit yang sama. ya hidup memang siapa yang tahu. oh ya, namanya Tisa.
"hay kak tisaa" sapa ku dan teman-teman hangat. kak Tisa hanya tersenyum simpul, dan berjalan lurus. kami hanya bertatapan. tidak ada yang berani berkomentar
"rasanya kehilangan itu sakit yaa" ujar salah satu teman ku berkomentar. aku terdiam, merenung. kehilangan? siap ngga ya sama kehilangan orang yang kita sayang atau orang yang sayang sama kita kehilangan kita. beberapa kali aku merasa kehilangan, yaa kepergian tulang dan bapatua ku memang sempat membuat ku sakit dan mengalami trauma. misalnya saja, karena kepergian tulang yang mengalami kecelakaan, aku jadi takut untuk mengendarai motor di dalam keadaan ramai begitu juga bapatua, yang meninggal karena tertabrak. aku jadi takut jika melihat kendaraan besar. um, belum takut sampai yang bagaimana sih tapi ya ada perasaan bergidik ketika melihat truknya. bahkan aku pernah bermimpi kalau aku kehilangan papa dan mama, yaaa rasanya sakit sekali memang. aku menangis di dalam mimpi dan sadar ku. kekuatan alam bawah sadar memang.
"eh gue ada kuliah nih, masuk yook" ajak ku.
"iya dodol, kan kita sekelas" jawab teman ku yang lain, Mini
"ahaha iya iya sekelas sama si Mini bawel ini" ujar ku lagi. aku merangkul Mini dan masuk ke kelas, kelas kami kali ini adalah Psikologi Klinis dan kami membahas mengenai assesmen klinis (proses dalam mengumpulkan data untuk melakukan tindakan selanjutnya pada klien -red). salah satu metodenya ada wawancara.
"jadi ya dek, kalo wawancara yang dibangun adalah kepercayaan. misalnya ketika klien menderita depresi, kita tidak mungkin langsung datang dan mempertanyakan masalahnya. kita harus membangun suasana yang akrab dengannya agar bisa berjalan dengan baik proses wawancara" ujar bu Vio
eh? membangun kepercayaan? pikiranku kembali melayang kepada kak Tisa, ya membangun kepercayaan. dengan kejadian yang menimpanya apakah sulit bagi dia untuk membangun kepercayaan pada laki-laki atau bagaimana dengan membangun kepercayaan kepada orang terdekatnya untuk berbagi, karena selama ini dia hanya berbagi cerita dengan kekasihnya. waah pasti akan menjadi hal yang sulit sekali buat kak Tisa untuk membangun kembali kepercayaan dengan lelaki dan orang sekitarnya karena memang dia tidak terbaiasa.
"eh, Nggi. lo tau ngga kalo kak Tisa itu masih update status tentang kangen-kangen gitu sama almarhum. sedih ya? plus dia itu pake pp foto sama cowonya lagi, duuuh merinding gini gue.. orang introvert itu memang sulit ditebak yaa" ujar Mini
"eh serius lo? ah parah juga yaa.. tapi nornal sih, Min. ya wong udah lama gitu kan mereka pacaran. trus pisahnya karena meninggal lagi. yaa suliit banget emang"
"iya, astagaaa gue ngga mau kaya gitu"
"eh buseeet sante santee.. dia juga ngga mau kali kaya gitu"
-lanjut yaaa nanti :p-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar