aku ingin menyapa mu lewat blog ini setelah aku merasa yakin untuk menyapa mu. mengapa begitu? karena aku harus mengumpulkan keberanian dan mental ku untuk melawan rasa sakit di dada ku ketika menyebut nama mu.
um maaf, aku masih tidak ingin memanggil mu dengan ucapan 'sayang, nyebelin, atau apapun' bagaimana dengan abang saja. ya, panggilan ku untuk mu dari kecil.
ngga terasa ya, udah mau akhir tahun dan ngga terasa juga di akhir tahun ini kita putus. sedih? iya sedih. tapi aku memilih mengikuti hati kecil ku, bang. aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada mu alasan ku yang kuat soal keputusan ku ini. tapi, aku ingin bahagia. ya, seperti yang ku jelaskan di awal aku melawan rasa sakit yang ku rasakan saat membayangkan dan menyebut nama mu. tidak, tidak sehina apa yang kau pikirkan tentang hina. hanya saja, luka yang kau buat mungkin cukup dalam ku rasakan.
aku memang suka memendam, aku akan menjelaskan sekali lagi. ketika malam kau marah kepada ku, kau mematikan telepon mu. mungkin saat itu kau mengumpulkan mental mu, tapi kau tau apa yang terjadi pada ku disini? aku panik, tidak tahu harus berbuat apa, dan menangis. aku mencoba menahan tangis ku, tapi akhirnya pecah dan aku pun tertidur karena aku merasa lelah hari ini. setelah itu, aku terbangun karena pikiran ku terisi oleh mu dan kepanikan tentang mu, aku pun terbangun dan menelepon mu. yes, nyambung. tapi kamu masih tidak ingin mengangkat telepon mu. sedih bukan main dan ingin menangis, lalu beberapa saat kemudian, hp ku bergetar dan ada sms yang hanya berisi kalimat 'ada apa nelepon?' lemas rasanya. iya, setelah aku panik, kepala ku pusing karena menangis dan aku berusaha untuk mencoba menelepon dan ingin mengetahui keadaan mu. kamu hanya berkata seperti itu. aku kembali menelepon. ya, tentu dengan jawaban yang jutek dari mu. aku kembali menahan air mata ku. kamu bertanya sudah berapa kali aku membahas soal dia dengan kristin teman ku. aku mencoba meyakinkan mu, bahwa itu yang pertama kalinya. tapi kamu berkata bahwa aku berbohong dan kamu sudah tidak mempercayai aku lagi. aku hanya terdiam. siapakah yang salah? aku merasa itu adalah kali pertama aku membicarakan dia. aku emosi, disaat laporan ku yang banyak, lelah fisik yang ku alami dia tidak menghargai kejujuran ku saat itu. aku meminta untuk putus. saat itu aku memang menangis, ya bayangkan saja aku menangis sampai jam 3 pagi. kepala ku sangat sakit dan disitu adalah awal dada ku terasa sedikit sakit. aku mencoba ikhlas dan meyakinkan diri ku bahwa aku memang harus berpisah dengannya. dia pasti dapat yang terbaik dibanding aku. aku meyakinkan diri ku terus menerus sampai akhirnya aku bisa mengerjakan tugas ku. keesokan harinya, aku bangun dan ada sms dari mu. kata-katanya cukup menyakitkan
gue udah ngga percaya lagi sama lo. lo yang buat gue ngga akan pernah percaya sama makhluk yang namanya perempuan. gue butuh buku itu, kembaliin sekarang juga. gue ngga rela buku itu ada sama orang kaya lo.
aku hanya menghela nafas, mungkin aku terlalu lelah untuk kembali menangis. aku mandi dan aku hanya berkata, ya aku akan kembalikan buku itu. saat itu, aku sangat yakin untuk berpisah dengan mu. bukan karena aku lemah. tapi aku tidak mampu untuk mendengar kata-kata tu keluar dari mulut mu. ada sedikit rasa benci kepada mu. aku mencoba menahan dan kembali memendam. aku mencoba fokus dikampus, teman ku banyak yang menanyakan keadaan ku. bahkan salah satu teman ku richard sangat marah kepada mu karena kondisi ku yang tidak baik-baik saja setelah menangis semalam.
tapi kamu kembali dengan sms yang manis kepada ku. sempat ada rasa benci yang bertambah, apa sih maunya? hobinya mainin perasaan orang aja. tapi entah kenapa aku tetap pada pendirian ku. kau telah menghancurkan kesehatan ku dan aku tidak mau berlama-lama dengan mu. memang tujuan pacaran pembentukan karakter dan mengetahui karakter pasangan. tapi tidak untuk 'membiasakan' diri sakit kan?
aku tetap pada pendirian ku sampai saat ini, terlebih ketika kamu menjelaskan bahwa bukan kamu yang mengirim pesan yang menyakitkan itu. tapi sahabat mu yang berlatar belakang hidup di jalanan. dada ku semakin sesak mendengarnya. itu adalah privacy kami berdua tapi kenapa ada orang lain yang ikut campur. aku masih tidak terima dan maaf aku belum bisa memaafkan sahabat mu. entah sampai kapan, entah kamu mengasihani ku karena sikap ku. tapi aku mencoba mengerti lewat latar belakang sahabat mu.
ya, aku sadar mungkin aku yang tidak dapat mengimbangi mu dengan semua kebiasaan mu dengan semua kata-kata mu. awal doa ku ketika berpacaran dengan mu adalah, aku ingin dikenalkan kepada Tuhan lebih dalam lagi. terimakasih telah memperkenalkan ku dan apa yang kamu berikan sangat membantu ku dalam pelayanan sekolah minggu ku. aku akan coba hilangkan sakit hati ku kepada mu, namun dengan cara aku menjauhi dan tidak berhubungan dengan mu dahulu. karena itu hanya akan mengorek luka lama ku.
aku mendoakan yang terbaik untuk mu, ya. semoga kamu bisa mendapat pengganti ku dan itu jauh lebih mengerti dan bisa menyeimbangi diri mu. aku pun begitu, aku belajar untuk lebih mengenal calon pasangan 'pacar' ku dahulu sebelum aku berkomitmen. bukan ketika aku berpacaran. karena ketika aku berpacaran dan aku baru mengenal pasangan ku itu hanya akan merusak komitmen ku nantinya. ya, aku akan mengenalnya terlebih dahulu.
menang benar ya bang, aku pernah bercerita kepada mu. bahwa dalam psikologi perkembangan remaja, haruslah di mulai dengan kencan baru berpacaran. aku menangkap makna kencan terlalu dangkal, aku baru mengerti sekarang. kencan yang dimaksud adalah mengenal lebih dalam karakter masing-masing pasangan kita.
baiklah, dada ku mulai terasa sakit lagi. aku sudahi. terimakasih untuk kasih sayang mu kepada ku.
aku yang mengasihi dan mencoba menghilangkan sakit hati ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar