“Boy, bangun
yuk sayang. Kita sarapan sama-sama..”
Tidak ada
sahutan dari dalam kamar, nenek membuka pintu kamar ku. Tampak aku masih
terduduk di tempat tidur sambil bengong. Nenek khawatir pada ku, berlari
menghambur kearah tempat tidur ku.
“kamu kenapa sayang?”
tanya nenek khawatir sekali, “mata kamu sembab sekali.. kamu kenapa?” nenek
menarik selimut ku, posisi ku sangat kaku. Aku hanya diam, tidak dapat
memejamkan mataku. Tatapan ku kosong, persis seperti orang yang sedang
kesurupan di film-film. Nenek berlari keluar kamar memanggil kakek, mereka
kembali dan menemukan diriku masih dalam posisi yang sama
“kamu kenapa,
Boy?” tanya kakek. Kepala ku pusing sekali, aku menengok ke arah kakek. Aku
seperti melihat sosok papa, “bilang sama kakek nak kamu kenapa?” tanya kakek
dengan sepenuh tenaga, ya kakek ku sudah tua dan sulit untuk berbicara apalagi
dalam keadaan khawatir. Aku mengumpulkan tenaga ku untuk berbicara, tidak tega
pada kakek.
“kek, Boy takut
tidur. Boy takut ngga bisa bangun kaya papa sama mama. Boy ngga mau ninggalin
kakek sama nenek sendirian..”ujar ku pelan, aku tidak tahu kenapa kata-kata itu
yang keluar dari mulut ku.
Kakek dan nenek
menunduk, memeluk ku. Aku bisa merasakan air mata mereka mengalir di bahu ku.
Aku ikut menangis, menangis untuk kesekian kalinya ..
Nama ku, Boy
Jonathan. Aku berusia 6 tahun, baru 3 bulan yang lalu orangtua ku pergi
meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Saat dimana aku masih sangat membutuhkan
mama dan papa ku, saat dimana aku baru merasakan ingin memiliki adik yang ingin
keluar dari perut mama, saat dimana mereka sedang memperhatikan perkembangan ku
yang baru saja menginjakkan kaki di sekolah dasar. Aku sangat mencintai ibu ku,
kalau kata orang masa seperti ini adalah masa dimana anak laki-laki sangat
dekat dengan ibu dan perempuan dekat dengan ayahnya. Oedipus Complex adalah
sebutan yang mereka gunakan, namun itu tidak terjadi pada ku, aku memang sangat
dekat dengan mama ku dan aku juga tidak kehilangan rasa sayang ayah ku. Entah
mungkin karena aku anak pertama di keluarga ini. Kami tinggal disebuah
perumahan elite, papa berkerja sebagai seorang dokter dan mama berkerja sebagai
seorang klinisi. Aku sering diperdengarkan cerita tentang kesehatan, penyakit,
abnormalitas, dan banyak hal yang berkaitan dengan dunia mereka. Kelak aku akan
seperti mereka, bahkan akan lebih dari mereka.
6 bulan yang
lalu, mama baru saja memberitahukan kepada ku bahwa aku akan mempunyai seorang
adik. Aku sangat senang, karena aku tidak memiliki teman bermain. Aku berharap
bahwa adik ku adalah laki-laki, aku membayangkan bagaimana berbagi
robot-robotan ku padanya, bagaimana menonton power ranger bersama dan bagaimana
kami bermain mobil-mobilan nanti. Aku semakin dekat dengan mama, aku semakin
menjaga mama. Tiap saat mama ingin pergi aku semakin menangis, aku semakin
tidak ingin mama pergi. Orang lain mengartikan tangisan ku yang diusia 6 tahun
ini karena aku iri karena ingin memiliki adik lagi, namun mereka salah. Itu
semua aku lakukan karena aku tidak ingin jauh dengan mama dan ingin bersama
dengan adik bayi, aku ingin menjaga mama dan belajar menjadi seorang abang yang
baik, ya setidaknya itu yang aku tahu tentang gambaran seorang dalam sebuah
kartun.
Namun, suatu
kali mama dan papa ingin pergi ke sebuah acara pernikahan relasi papa. Anaknya
mengadakan resepsi pemberkatan pernikahan, aku sudah merengek untuk ikut
“jangan ya
abang.. kan mama sama papa perginya sebentar” ujar mama dengan kelembutannya
“iya, lagian
papa pasti pulang kok” kata papa meyakinkan ku
“ngga! Boy
bilang mau ikut, mau ikut!!” aku semakin ngotot, entah kenapa aku malam ini aku tidak ingin mereka pergi
dan aku tidak ingin sendirian. Nenek melihat tingkah ku dan mencoba meyakinku
ku, namun aku tetap bersikukuh. Aku menolak mereka pergi.
“duh ma, gini
deh kalo si Boy lama banget dapet adik. Jadi manja loh ini” ujar papa
“papa, kok gitu
ngomongnya.. ngga kok ya?” ujar mama lagi membela ku lagi, tatapan mama memang
sangat menenangkan seolah-olah mama juga tidak ingin pergi dari ku. Aku diam
mendengar ucapan papa, kata siapa sih? Aku justru menantikan adik ku itu, aku hanya tidak bisa mengatakan bahwa aku
sangat tidak ingin kalian pergi. Itu saja.
“yaudah deh,
tapi cepet pulangnya” ujar ku acuh, aku tidak suka dibilang manja apalagi kalau
udah bawa-bawa adik. Nanti papa nilai macem-macem lagi pikir ku.
“nah gitu dong
sayang.. mama sama papa pergi ya sayang, say good bye sama dede.. kita
pulangnya cepet kok” ujar mama memeluk dan mencium ku. Hangat sekali. papa
mengelus rambut ku, “pergi ya jagoan papa” papa melambaikan tangannya. Aku
hanya mengangguk.
Mereka keluar
dari kamar ku, aku menyaksikan mereka pergi dari jendela kamar ku, hati ku
sangat tidak ingin mereka pergi dan sangat sedih. Aha! Mengingat kata-kata guru
sekolah minggu ku ‘Tuhan adalah gembala ku takkan kekurangan apapun’. Aku
berlutut mengikuti gaya kakak sekolah minggu ku jika berdoa, “Tuhan, boy sayang
mama dan papa. Jaga mereka dan dede bayinya. Terimakasih Tuhan Yesus”
Nenek masuk ke
kamar ku, “Boy, udah malem kamu ngga buat tugas sayang?” tanya nenek
“ngga ada nek”
jawab ku
“yaudah, bobo
ya besok kan boy harus sekolah”
“tapi..tapi..
boy mau nunggu mama sama papa pulang nek”
“loh, kok
ditungguin sih sayang? Udah boy bobo aja supaya besok ngga loyo pas sekolah,
boy tau ngga kalo ngga tidur itu bisa lemes loh pas bangunnya. Jadi harus
istirahat supaya bisa serius belajarnya besok. Aku tidak bisa melawan nenek,
aku mengangguk. Nenek menemani ku menggosok gigi dan mengganti pakaian tidur
ku. Aku naik ke tempat tidur sebelumnya nenek memimpin doa sebelum aku
tertidur, nenek menarik selimut ku. “tidur ya sayang”
Aku mengangguk,
nenek mematikan lampu kamar ku. Aku berjanji untuk tidak tertidur, namun
kenyataannya aku tertidur juga. Aku begitu terlelap malam ini.
Keesokan
paginya, aku bangun. Aku bingung kenapa tidak ada suara mama yang membangunkan
ku. Aku keluar kamar dan ada begitu banyak orang di dalam rumah ku, nenek
tertidur di ruang tamu dan kotak coklat besar di bawah.
“ini ada apa?
Kok nenek bobo di kelilingin orang-orang sih? Itu kotak apa besar banget?” piir
ku dalam hati tidak ada perasaan apa-apa, “mama sama papa mana?” tanya ku lagi
dalam hati. Mereka sibuk menenangkan kakek dan nenek sampai tidak ada yang
sadar dengan kedatangan ku. Aku berjalan menuju garasi rumah memastikan mobil
papa dan mama ada di tempatnya, namun ada Mba Fifi yang memergoki ku
“Mas Boy..”
ujar mba Fifi. Aku menengok, aku terkekeh. Namun raut wajah mba Fifi semakin
aneh, sedih dan seperti tidak dapat mengungkapkan apa-apa. Mba Fifi hanya
memeluk ku dan menangis. Hah ini ada apa sih? Kenapa semua menangis, kenapa
mama dan papa ngga ada
“mba fifi
kenapa? Mba, nenek kenapa sih? Trus mba liat mama ngga ya? Kok semua pada aneh
ya pagi ini, trus kayanya mobil papa juga ngga ada ya?” tanya ku masih tidak
mengerti. Mba fifi hanya menatap ku, kasihan. Ya, tatapan itu yang aku rasakan.
Tante Ivo datang dan memeluk ku lagi, mba fifi mundur dan menunduk.
“tante Ivo ada
disini?” tanya ku lagi.
“boy.. hari ini
boy ngga sekolah dulu ya sayang” ujar tante Ivo yang masih memeluk ku
“kenapa tante?
Nenek bilang boy harus sekolah” ujar ku lagi
“gak apa-apa
sayang, yuk ikut tante..” tante menggandeng tangan ku, aku masih menatap mba
fifi yang masih saja melihat ku sambil menangis. Di ruang tamu semua sudah rapi
bangku-bangku terlihat diluar, nenek hanya menatap kotak besar yang sudah
terbuka. Aku semakin bingung, apa isi kotak itu. Aku tidak dapat menggapainya.
Aku masih terlalu kecil, tante Ivo menggendong ku. Aku terdiam, aku tidak tahu
harus mengatakan apa.
“mama,
papa!!!!” teriak ku. Aku tidak mengerti kenapa aku teriak, aku tidak mengerti
kenapa juga aku menangis memanggil nama itu, mama dan papa ku masih terlihat
sangat ganteng dan cantik disana walau dalam keadaan tertidur. Ya mereka tidak
menatap ku, mereka memejamkan matanya. Aku masih menangis sambil bertanya,
“tante Ivo, mama papa kenapa bobo? Ini kan udah waktunya mereka kerja” ujar ku
lagi. Tante Ivo tidak tahan mendengar suara ku, air matanya semakin deras
mengalir, semua orang diruangan itu semakin pecah tangisnya. Terlebih kakek dan
nenek. Tante Ivo semakin erat memeluk ku
“Boy, sekarang
mama papa udah bobo. Mereka mau ketemu sama Tuhan Yesus..” ujar tante Ivo lagi.
Aku semakin tidak mengerti. Aku hanya terdiam menatap mama dan papa yang masih
saja tertidur. Waktu terus berputar, ada banyak pertanyaan di kepala ku.
Kenapa, kenapa dan kenapa? Aku dimandikan, aku dipakaikan baju berwarna hitam
dan aku kembali menatap papa dan mama. Aku baru teringat, “oh ya, tante Ivo
dede bayi gimana kalau mama terus tidur kaya gitu?”
Tante Ivo tidak
menjawab hanya semakin menangis, Bapak Pendeta datang dan memimpin upacara
pemakanan mama dan papa. Aku belum mengerti kalau saat itu adalah saat dimana
mama dan papa akan meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Aku hanya mengingat
sebuah kalimat bapak pendeta ‘bahwa semuanya akan kembali pada Tuhan’ aku belum
mengerti apa yang bapak pendeta katakan. Aku juga tidak mengerti suasan rumah
ku pada hari itu yang aku tau semua orang yang datang hanya bisa menangis
melihat ke arah ku dan memeluk ku. Aku hanya terdiam tidak mengerti namun
sesekali aku hanya bisa menangis.
Tiba di acara
yang paling menyakitkan bagi ku dan disini adalah puncak dari pertanyaan ku,
kotak besar tempat mama dan papa tertidur di tutup. Apa sih kotak ini? Kotak
ini jahat sekali, bagaimana mama dan papa bisa bernafas nantinya? Aku meronta,
tante Ivo memeluk ku. Dia kaget akan responku, aku yang sedaritadi hanya diam
akhirnya meronta.
“ini kenapa di
tutup tante? Mama sama papa gimana nafasnya? Tante jangaaaan.. bilangin mereka
jangan” teriak ku lagi. Tante Ivo hanya memeluk ku semakin erat, semua kembali
menangis. Tante Ivo meminta petugas untuk menghentikan, aku semakin dekat
dengan papa dan mama. Aku merasa dingin, hati ku sangat sedih.
“boy sayang,
cium mama papa dulu ya..” ujar tante Ivo. Nenek sudah menutup wajahnya dan
menangis dipelukan kakek. Aku bingung, namun aku menurut. Wah, dingin. Pikir
ku, aku mencium mama dan papa dan mengelus pipi mereka “boy sayang mama papa”
ujar ku tanpa sadar ku. Kotak besar itu kembali ditutup, aku kembali menangis.
Namun mereka tidak menghiraukan lagi. Mama dan papa dimasukkan kedalam mobil
ambulans, ya aku tau namanya karena aku punya mobil-mobilan ini. Aku mencoba
membaca tulisan disamping mobil ambulans itu, jenazah? Jenazah itu apa?
“tante Ivo,
jenazah itu apa?” tanya ku. Tante Ivo tersontak, bibirnya kaku. Tante Ivo tidak
menjawab, namun om Ivan menjawab dengan sabar
“jenazah itu
orang-orang yang pergi ke Tuhan Yesus, Boy.. jadi mama dan papa sekarang mau
kita anterin ketemu Tuhan Yesus..” Tante Ivo hanya menangis memandang Om Ivan,
“biar Vo, biar Boy sedikit ngerti. Karena cepat lambat dia pasti akan tau..”
Itulah yang
kuingat tentang hari itu, tiap jamnya, tiap sudut ruangan dirumah ku, keadaan
orang-orang disekeliling ku, bagaimana mereka memperlakukan ku, bagaimana semua
orang berbicara pada ku. Aku ingat tiap saatnya tentang gambar di rumah ku,
benar kalau orang bilang memori pada anak-anak akan cepat di rekam dan
dimasukkan dalam memori.
Aku sudah
berumur 8 tahun, ini artinya sudah 2 tahun sejak papa, mama, dan calon adikku
pergi. Sekarang aku memiliki ketakutan, aku takut untuk tidur karena yang aku
ingat, karena tidurlah aku kehilangan papa dan mama ku. Sekarang aku juga takut
untuk kehilangan kakek dan nenek ku. Aku tumbuh sebagai remaja yang tanpa kasih
sayang mama dan papa, namun kehadiran kakek dan nenek cukup membuat ku merasa
aku dipenuhi oleh kasih sayang. Kepergian papa dan mama membuat hidup ku
hancur, aku mengerti mereka sudah tiada ketika teman-teman ku berbicara pada ku
“eh boy, aku
turut sedih ya sama kamu” ujar Felix teman ku.
“sedih kenapa,
Lix?” tanya ku lagi
“iya karena
mama dan papa mu udah meninggal” ujarnya lagi
“meninggal apa
artinya?” tanya ku. Pada saat itu usia ku masih 6 tahun, saat itu 3 hari setelah papa dan mama meninggalkan ku.
“meninggal itu
kata mama sama papa ku, pergi jauh dan ngga akan kembali lagi. Dan bakal
sama-sama Tuhan Yesus di surga”
“hah? Kata
siapa? Mama dan papa pasti pulang, mereka pulang sama adek ku” ujar ku lagi
“ngga gitu,
Boy.. papa sama mama mu ngga akan pulang lagi, mereka kan udah ditanam di dalam
tanah..”
Teman-teman ku
begitu polos sama seperti ku saat itu, aku mengerti mengapa mereka mengatakan
seperti itu. Karena memang itulah yang mereka tahu. Sejak saat itu aku mulai
menanya kepada tante Ivo dan Om Ivan apa yang terjadi sebenarnya. Hati ku
sangat terpukul, aku hanya merasa saat itu terlalu cepat, dengan usia ku yang
masih berumur 6 tahun aku mengalami kejadian itu. Aku ditinggalkan oleh papa
dan mama ku, aku mengerti istilah meninggal, aku mengerti istilah peti mati,
aku mengerti istilah makam. Semua tante Ivo jelaskan, sayangnya hari itu aku
memang tidak ikut pemakaman papa dan mama, karena mereka tidak ingin membuat ku
trauma. Aku membenci alasan mereka, karena pada nyatanya aku sangat takut. Ya
aku sangat takut akan kematian. Aku takut dengan bunyi ambulans, aku takut
tidur, aku takut dengan peti mati. Karena mereka semua mengingatkan ku pada
saat aku merasa seperti dibohongi oleh keluarga ku sendiri. Hanya 2 orang yang
masih aku hargai, kakek dan nenek.
Hari-hari ku ku
jalani dengan ketakutan, aku takut jika kakek semakin tua aku takut kehilangan
mereka, aku takut nenek yang mulai sakit aku takut kehilangan mereka, bahkan
aku takut untuk mati karena aku takut tidak bisa bersama dengan kakek dan nenek
ku. Aku tumbuh menjadi anak yang insecure yang selalu was-was dan takut akan
segala hal. Aku menjadi tidak bisa tertidur pada pagi hari dan hanya tertidur
pada malam hari. Untuk itu kakek dan nenek memutuskan untuk menyekolahkan ku
secara private. Guru private ku adalah kakak sekolah minggu ku dulu, Kak Ima
namanya. Dia sangat baik dan sabar dengan sikap tertutup ku. Dia selalu
mengingatkan ku akan firman Tuhan, perlahan aku mulai menerima keadaan namun
aku masih sulit untuk berinteraksi, aku masih sulit melupakan masa lalu ku
dahulu, aku merasa ini semua tidak adil.
Aku sudah
beranjak kelas 6 SD dan aku masih menjalani les private, kabar buruk lagi harus
ku terima karena yayasan sekolah private ku mengharuskan aku menjalani Ujian
Nasional dengan teman-teman ku. Aku menolak habis-habisan, kakek dan nenek ku
kembali memutar otak mereka begitu juga dengan Kak Ima. Aku mengurung diri di
kamar, di kamar aku kembali memandang foto mama dan papa
“ma, pa.. apa
kabar disana? Boy sekarang lagi sedih, ya tiap hari Boy emang sedih ma.. Boy
ngga punya temen dan Boy hanya punya kakek nenek yang nemenin Boy. Selama
bertahun-tahun ini Boy selalu nutup diri sama orang lain, Boy takut disakitin
dan dibohongin sama orang lain, bahkan ma untuk nemenin nenek belanja aja, Boy
milih di dalam mobil di basement. Boy takut ketemu orang, boy takut kehilangan
dan berpisah sama orang yang boy temuin ma.. Boy udah kelas 6 loh ma sekarang,
Boy mau ujian nasional katanya itu syarat supaya boy bisa masuk SMP. Emang iya
ya ma? Boy nurut aja deh, tapi yang boy ngga suka kenapa harus ketemu sama
orang sih ma? Boy udah nyaman begini kok. Kenapa harus bareng-bareng sama orang
lain? Ma, boy bingung kenapa boy ngga bisa kaya temen-temen boy yang lain. Ada
yang aneh sama penampilan boy, temen-temen selalu olok-olok boy kayak
bapak-bapak. boy takut ma berteman sama mereka, boy takut kalau nanti boy
sayang mereka dan mereka ninggalin boy kaya papa dan mama ninggalin boy bawa
adek boy. Kenapa mereka ngga bisa ngerti dari sisi itu ma?” aku menangis
memandang foto mama dan papa. Aku melemparkan pandangan ku pada salib yang ada
di ruangan ku, “Tuhan Yesus, boy kenapa? Kenapa boy ngga bisa kaya anak-anak
lain?”
Tok tok
Pintu kamar ku
ada yang mengetok, ah suara kak Ima. Aku tau dia pasti mau berbicara pad aku,
agak malas namun karena aku menghargai kak Ima, aku membukakannya pintu. Kak
Ima tersenyum, dia menarik ku.
“ayo kita
keluar. Kak Ima mau tunjukkin sesuatu sama kamu..” aku ditarik, walaupun aku
belum menjawab apa-apa. Kak ima memang wanita hebat, dia sangat ceria dan
menerima ku dengan sabar.
“kita mau
kemana sih kak?” tanya ku
“udah liat aja
ya boy” kak Ima berpamitan pada kakek dan nenek dan mengendarai mobilnya. Aku
hanya duduk. Aku jadi ingat dahulu aku takut masuk ke dalam mobil, karena
menurut ku mobil adalah yang membuat mama dan papa pergi, aku mengetahuinya
setelah lagi-lagi tante Ivo memberitahu ku bahwa malam sesudah mama dan papa
pulang dari resepsi pernikahan mobil mereka menabrak truk dan yang
mengakibatkan aku kehilangan mereka. Aku hanya terdiam, aku tidak mengenal ada
dimana aku.
Panti Asuhan
Eunike
Panti Asuhan?
Pelajaran yang kutahu, panti asuhan adalah tempat anak-anak yang tidak memiliki
rumah dan orangtua. Kak Ima tersenyum pada ku, “kita sampe”
“boy ngga mau
keluar kak” ujar ku ketus
“ayolah boy,
kakak mohon. Selama ini kakak turutin apa yang boy mau kan? Sekarang gantian ya
sayang?” ujar kak Ima. Aku tidak bisa menolak. Aku ikut turun, beberapa anak
ada yang melihat kak Ima, mereka berteriak dan memeluk kak Ima.
“halo
anak-anak, kenalin ini boy adik kak Ima” ujar kak Ima memperkenalkan ku
“loh kak ima
punya adik? Kok baru dikenalin?” ujar salah seorang anak
Kak ima
tersenyum pada ku, “hehe iya, adik kakak ini agak pemalu.. ayo kenalan”
Anak-anak di
panti itu kelihatannya seumuran dengan ku, mereka menyapa ku. Sangat
menyenangkan memang walau awalnya risih sekali, ini terlalu banyak dan ribut
sekali. aku hanya memperhatikan mereka saja. Mereka bermain bersama kak ima,
mereka tertawa, mereka membuat kue, memelihara binatang, dan belajar bersama.
Ada rasa iri dalam hati ku, bagaimana bisa mereka melakukan seperti ini? Tidak
terasa aku sudah berasa 8 jam di panti itu, Kak Ima berpamitan pulang pada Ibu
Tere pengurus panti asuhan ini dan berjanji untuk kembali. Kak Ima mengajak ku
pulang, aku punya banyak pertanyaan pada kak Ima.
Seperti
mengetahui isi pikiran ku, Kak Ima bertanya dahulu
“jadi apa yang
mau boy tanya sama kak Ima?” tanyanya sambil mengendarai mobil
“mereka tadi
siapa kak?”
“mereka itu
adik-adik kakak, mereka sama kaya boy..”
“sama gimana?”
“iya sama,
mereka sama-sama malaikat kecil kakak, kaya kamu. Hehe. Mereka itu adik asuh
kak Ima juga boy.. mereka juga udah ngga punya papa dan mama lagi”
Aku terdiam,
“ngga punya mama papa lagi kak?” tanya ku
“iya sayang,
kenapa? Boy iri mau kaya mereka atau malah sedih?”
“sedih sama iri
kak”
“haha kok gitu
sih dek, memang kenapa?”
“iya boy jadi
inget papa dan mama tapi boy juga mau kaya mereka, mereka kayanya asyik banget
ya kak..”
“iya, kakak
ngerti perasaan boy. Sekarang kak Ima balik tanya ya dek, umur boy udah
berapa?”
“12 tahun kak”
“udah remaja
kan ya? Trus dari umur 6 tahun sampe sekarang boy udah punya temen siapa aja?”
“ada Felix
waktu boy kelas 6, kakek, nenek,mba fifi, sama kak Ima”
“waah kalo yang
tadi boy lihat temen-temen mereka ada banyak ngga sayang?”
“iya kak”
“boy tau, sejak
kapan mereka ditinggal papa dan mamanya?”
“ngga kak,
kapan?”
“sejak mereka
lahir.. mereka lahir dan ditinggalkan papa dan mama mereka dan mereka ngga
kenal siapa papa dan mama mereka”
“hah masa sih
kak? Kok papa dan mama mereka tega?”
“ya kakak ngga
ngerti ya sayang, tapi mungkin papa dan mamanya ngga sanggup biayain mereka,
tapi pasti papa dan mama mereka sayang mereka”
Aku terdiam.
“dek, kamu tau
kakak pernah ngobrol sama mereka dan tanya apa keinginan mereka? Kamu tau
jawaban mereka apa?”
Aku menggeleng
“mereka bilang,
mereka ngga mau ada anak-anak lain yang rasain apa yang mereka rasain. Mereka
mau hidup mereka bisa jadi lebih berguna, mereka mau buat kegembiraan.
Cita-cita mereka sama loh kaya boy.. mereka ada yang mau jadi dokter, pilot,
perawat, guru. Mereka memang sedih, bahkan ngga kenal sama papa mama mereka,
tapi mereka tau kalau ada yang lebih mengenal mereka sayang”
“siapa kak?”
“Tuhan Yesus,
mereka percaya kalau Tuhan Yesus jagain mereka. Inget pesen kakak waktu sekolah
minggu dulu? Tuhan adalah...”
“..gembala ku
takkan kekurangan apapun”
“yap! Itu adek
kakak pinter, mereka Cuma inget kata-kata itu aja sayang”
“itu bisa
nguatin mereka?”
“iya tentu,
kapan terakhir boy bilang kalimat itu?”
“malam sebelum
papa dan mama pergi ke acara nikahan temennya papa. Waktu itu boy bilang itu
karena boy takut waktu mama dan papa pergi..”
“nah habis boy
bilang itu apa yang boy rasain?”
“boy tenang dan
boy malah bobo kak”
“nah itu pinter
dek..”
“iya boy malah
tertidur lelap dan baru bangun paginya. Makanya boy takut bobo sekarang”
“wah boy sayang
sekali sayang..”
“sayang kenapa
kak?”
“iya coba
sekarang boy renungin dan pikirin deh, kalau boy ngga bobo dan malah nunggu
papa dan mama.. pasti boy malah denger kejadian kecelakaan papa dan mama dan
akan inget itu seumur hidup boy. Boy bakal banyak takut sama yang lain bukan Cuma
tidur, sirene ambulans, peti mati.. karena usia boy pada waktu itu, usia dimana
boy inget sama semua hal yang boy lihat.. coba kalau boy lihat keadaan papa dan
mama di rumah sakit. Makanya kakek dan nenek sengaja ngga bangunin boy karena
memang boy tidurnya lelap banget sayang”
Aku terdiam,
rasanya seperti dihantam batu besar namun batu itu menghancurkan luka ku dan
aku mulai berpikir terang, “tapi kak, kenapa boy baru ngerti apa arti meninggal
setelah boy udah umur 7 tahun?”
“hm kalau itu,
coba deh boy bayangin kalau boy ngerti sama kata-kata meninggal pasti boy bakal
mikir kalau papa dan mama boy jahat pergi dan ngga mau kembali lagi. Tapi Tuhan
izinin itu belakangan, setelah boy tau istilah-istilahnya dan baru dikasih tau
apa artinya”
“trus kak
kenapa boy ngga bisa tidur?”
“sekarang
kenapa boy ngga mau tidur?” tanya kak Ima lagi
“boy takut
kehilangan kakek dan nenek kaya boy kehilangan papa dan mama”
“salah, boy Cuma
takut kalau boy akan pergi kaya papa dan mama dan ngga bisa ketemu kakek dan
nenek. Boy Cuma takut sama kata berpisah kok, boy makanya ngga mau punya temen.
Karena boy ngga suka nanti berpisah dan
jauhan sama temen boy..”
Lagi-lagi aku
diam, aku mengiyakan kata-kata Kak Ima. Ih, jangan-jangan Kak Ima dukun nih.
“kok kak Ima
tau semua yang boy pikirin sih?” tanya boy
“itu semua
karena kak ima udah sayang sama boy.. Boy, kak Ima bisa seperti ini sama boy
karena papa boy adalah sahabat Kak Ima, tante Ivo sama om Ivan khawatir banget
sama boy dan minta tante ajarin boy. Mereka sayang banget sama boy, begitu juga
kak ima.. Kakak ngerti perasaan boy dulu, kak ima juga tau gimana kesedihan boy
pada saat umur itu ditinggal papa dan mama. Tapi boy, boy punya tante Ivo, om
Ivan, kakek, nenek, kak ima, sama saudara boy yang lain. Mereka takut nyinggung
perasaan boy kalau ngomong langsung dan perhatiin boy langsung karena sikap boy
yang menutup diri. Boy cuek, ngga mau keluar rumah, kalau ada acara di rumah
boy malah masuk kamar. Mereka jadi takut salah, coba deh Tuhan Yesus kurang
sayang apa sama boy? Ya kan? Bahkan boy lupain mantra sakti kalau mau dapet
ketenganan dari Tuhan Yesus kan? Hehe” tanya kak ima lagi
Aku menangis,
tidak sadar air mata ku mengalir begitu deras. “kak ima, boy kurang bersyukur
ya namanya? Boy ngga bisa tau ya kalau ternyata Tuhan Yesus udah rencanain yang
terbaik buat boy dan boy ngga bisa bales perbuatan Tuhan sama boy..”
“adik kakak
ini.. ini yang buat kakak sayang banget sama boy, boy punya hati malaikat. Boy tulus
sekali loh dek hati kamu sebenarnya, tapi ada satu sisi hati kamu yang sangat
terluka dan minya dikonfirmasi lukanya hehe. Maaf ya sayang kakak baru
konfirmasi sekarang, menurut kakak ini waktu
yang tepat aja..”
“terimakasih ya
kak Ima kakak udah kaya mama aku”
“sama-sama
sayang, jadi sekarang?”
“Tuhan adalah
gembala ku, takkan kekurangan apapun.. aku masuk dulu ya kak, besok kita ketemu
lagi”
Tidak sadar
bahwa kami sudah sampai di depan rumah, aku masuk ke dalam dan kak Ima pulang. Aku
memeluk nenek ketika sampai di rumah, “terimakasih ya nek mau sabar sama Boy
yang susah banget diurusin, terimakasih mau urus boy..”
Nenek menatap
ku, memeluk ku lagi dan menangis “Boy, cucu nenek” kakek juga datang memeluk
ku. Aku pamit untuk naik ke atas, aku tidak sabar menceritakan ini pada mama
dan papa. Aku naik ke tempat tidur ku , sambil mengambil foto mama dan papa
“terimakasih ya
ma, pa.. Boy ngga pernah nyesel udah kenal sama papa dan mama boy walaupun Cuma
6 tahun aja. Tapi pa, ma.. 6 tahun itu adalah 6 tahun yang luar biasa istimewa
buat boy, 6 tahun yang ngga akan pernah boy lupain. Boy janji ma, pa.. Boy mau
buat hidup boy lebih berguna buat orang lain, someday boy akan buat mama dan
papa bangga pernah punya boy dalam hidup mama dan papa. Terimakasih Tuhan udah
buka hati boy..”
20 Tahun
kemudian
“dok, ibu ini
mengalami pendarahan” ujar seorang perawat pada ku. Aku memperhatikan wajah
perawat itu yang penuh peluh, aku mengikutinya. Aku mendengar ada keributan
kecil antara pihak admistrasi dengan keluarga korban
“ini ngga bisa
ditangani dulu pak.. maaf ya, bapak harus menyediakan uang sebesar ini” ujar
pihak administrasi.
“ada apa ini?”
tanya ku lagi
“ini dok,
keluarga ini..” belum selesai berbicara aku memotong
“kamu ini
gimana sih? Udah pak ngga usah di pikirin saya yang urus. Suster, siapin
ruangan untuk isteri bapak ini”
“tapi dok..”
“saya yang
tanggung jawab”
“terimakasih
dokter.. terimakasih”
Aku berkunjung
ke makam papa dan mama, aku meletakkan jas dokter ku ditengah mereka.
“ini untuk papa
dan mama, aku tepatin janji mama dan papa. Aku berjuang selama ini, untuk dapet
jubah ini dan bisa pake ma, pa. Semoga dengan ini ngga ada lagi ya yang bisa
ngerasain apa yang aku rasain waktu dulu. Aku sayang mama dan papa. Oh ya, ma
pa.. aku bangga bisa jadi anak papa dan mama, sampai kapan pun”
Aku tersadar,
ini adalah bagian hidup ku. Tuhan sungguh jadi skenario terhebat dalam hidup
ku, Dia merangkai hidup ku dari kecil sampai sebesar ini. Kenyataannya adalah,
setiap orang memang harus pergi namun siapa yang pergi dahulu hanya berbicara
soal waktu. Namun satu hal yang aku percaya dan sangat menguatkan ku adalah
ketika Dia mengambil orang yang kita sayangi, Dia akan memberikan lagi gantinya
untuk menyatakan bahwa Dia tidak membiarkan kita tenggelam dalam luka yang
berkepanjangan. Ya kita manusia dan salah satu sifat manusia adalah mudah
terluka dan sakit hati, namun ‘Tuhan adalah gembala ku takkan kekurangan apapun’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar