Selasa, 10 Juli 2012

requestnya bang boy


Boy, bangun yuk sayang. Kita sarapan sama-sama..”
Tidak ada sahutan dari dalam kamar, nenek membuka pintu kamar ku. Tampak aku masih terduduk di tempat tidur sambil bengong. Nenek khawatir pada ku, berlari menghambur kearah tempat tidur ku.
“kamu kenapa sayang?” tanya nenek khawatir sekali, “mata kamu sembab sekali.. kamu kenapa?” nenek menarik selimut ku, posisi ku sangat kaku. Aku hanya diam, tidak dapat memejamkan mataku. Tatapan ku kosong, persis seperti orang yang sedang kesurupan di film-film. Nenek berlari keluar kamar memanggil kakek, mereka kembali dan menemukan diriku masih dalam posisi yang sama
“kamu kenapa, Boy?” tanya kakek. Kepala ku pusing sekali, aku menengok ke arah kakek. Aku seperti melihat sosok papa, “bilang sama kakek nak kamu kenapa?” tanya kakek dengan sepenuh tenaga, ya kakek ku sudah tua dan sulit untuk berbicara apalagi dalam keadaan khawatir. Aku mengumpulkan tenaga ku untuk berbicara, tidak tega pada kakek.
“kek, Boy takut tidur. Boy takut ngga bisa bangun kaya papa sama mama. Boy ngga mau ninggalin kakek sama nenek sendirian..”ujar ku pelan, aku tidak tahu kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulut ku.
Kakek dan nenek menunduk, memeluk ku. Aku bisa merasakan air mata mereka mengalir di bahu ku. Aku ikut menangis, menangis untuk kesekian kalinya ..

Nama ku, Boy Jonathan. Aku berusia 6 tahun, baru 3 bulan yang lalu orangtua ku pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Saat dimana aku masih sangat membutuhkan mama dan papa ku, saat dimana aku baru merasakan ingin memiliki adik yang ingin keluar dari perut mama, saat dimana mereka sedang memperhatikan perkembangan ku yang baru saja menginjakkan kaki di sekolah dasar. Aku sangat mencintai ibu ku, kalau kata orang masa seperti ini adalah masa dimana anak laki-laki sangat dekat dengan ibu dan perempuan dekat dengan ayahnya. Oedipus Complex adalah sebutan yang mereka gunakan, namun itu tidak terjadi pada ku, aku memang sangat dekat dengan mama ku dan aku juga tidak kehilangan rasa sayang ayah ku. Entah mungkin karena aku anak pertama di keluarga ini. Kami tinggal disebuah perumahan elite, papa berkerja sebagai seorang dokter dan mama berkerja sebagai seorang klinisi. Aku sering diperdengarkan cerita tentang kesehatan, penyakit, abnormalitas, dan banyak hal yang berkaitan dengan dunia mereka. Kelak aku akan seperti mereka, bahkan akan lebih dari mereka.
6 bulan yang lalu, mama baru saja memberitahukan kepada ku bahwa aku akan mempunyai seorang adik. Aku sangat senang, karena aku tidak memiliki teman bermain. Aku berharap bahwa adik ku adalah laki-laki, aku membayangkan bagaimana berbagi robot-robotan ku padanya, bagaimana menonton power ranger bersama dan bagaimana kami bermain mobil-mobilan nanti. Aku semakin dekat dengan mama, aku semakin menjaga mama. Tiap saat mama ingin pergi aku semakin menangis, aku semakin tidak ingin mama pergi. Orang lain mengartikan tangisan ku yang diusia 6 tahun ini karena aku iri karena ingin memiliki adik lagi, namun mereka salah. Itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin jauh dengan mama dan ingin bersama dengan adik bayi, aku ingin menjaga mama dan belajar menjadi seorang abang yang baik, ya setidaknya itu yang aku tahu tentang gambaran seorang dalam sebuah kartun.
Namun, suatu kali mama dan papa ingin pergi ke sebuah acara pernikahan relasi papa. Anaknya mengadakan resepsi pemberkatan pernikahan, aku sudah merengek untuk ikut
“jangan ya abang.. kan mama sama papa perginya sebentar” ujar mama dengan kelembutannya
“iya, lagian papa pasti pulang kok” kata papa meyakinkan ku
“ngga! Boy bilang mau ikut, mau ikut!!” aku semakin ngotot, entah kenapa  aku malam ini aku tidak ingin mereka pergi dan aku tidak ingin sendirian. Nenek melihat tingkah ku dan mencoba meyakinku ku, namun aku tetap bersikukuh. Aku menolak mereka pergi.
“duh ma, gini deh kalo si Boy lama banget dapet adik. Jadi manja loh ini” ujar papa
“papa, kok gitu ngomongnya.. ngga kok ya?” ujar mama lagi membela ku lagi, tatapan mama memang sangat menenangkan seolah-olah mama juga tidak ingin pergi dari ku. Aku diam mendengar ucapan papa, kata siapa sih? Aku justru menantikan adik ku itu,  aku hanya tidak bisa mengatakan bahwa aku sangat tidak ingin kalian pergi. Itu saja.
“yaudah deh, tapi cepet pulangnya” ujar ku acuh, aku tidak suka dibilang manja apalagi kalau udah bawa-bawa adik. Nanti papa nilai macem-macem lagi pikir ku.
“nah gitu dong sayang.. mama sama papa pergi ya sayang, say good bye sama dede.. kita pulangnya cepet kok” ujar mama memeluk dan mencium ku. Hangat sekali. papa mengelus rambut ku, “pergi ya jagoan papa” papa melambaikan tangannya. Aku hanya mengangguk.
Mereka keluar dari kamar ku, aku menyaksikan mereka pergi dari jendela kamar ku, hati ku sangat tidak ingin mereka pergi dan sangat sedih. Aha! Mengingat kata-kata guru sekolah minggu ku ‘Tuhan adalah gembala ku takkan kekurangan apapun’. Aku berlutut mengikuti gaya kakak sekolah minggu ku jika berdoa, “Tuhan, boy sayang mama dan papa. Jaga mereka dan dede bayinya. Terimakasih Tuhan Yesus”
Nenek masuk ke kamar ku, “Boy, udah malem kamu ngga buat tugas sayang?” tanya nenek
“ngga ada nek” jawab ku
“yaudah, bobo ya besok kan boy harus sekolah”
“tapi..tapi.. boy mau nunggu mama sama papa pulang nek”
“loh, kok ditungguin sih sayang? Udah boy bobo aja supaya besok ngga loyo pas sekolah, boy tau ngga kalo ngga tidur itu bisa lemes loh pas bangunnya. Jadi harus istirahat supaya bisa serius belajarnya besok. Aku tidak bisa melawan nenek, aku mengangguk. Nenek menemani ku menggosok gigi dan mengganti pakaian tidur ku. Aku naik ke tempat tidur sebelumnya nenek memimpin doa sebelum aku tertidur, nenek menarik selimut ku. “tidur ya sayang”
Aku mengangguk, nenek mematikan lampu kamar ku. Aku berjanji untuk tidak tertidur, namun kenyataannya aku tertidur juga. Aku begitu terlelap malam ini.
Keesokan paginya, aku bangun. Aku bingung kenapa tidak ada suara mama yang membangunkan ku. Aku keluar kamar dan ada begitu banyak orang di dalam rumah ku, nenek tertidur di ruang tamu dan kotak coklat besar di bawah.
“ini ada apa? Kok nenek bobo di kelilingin orang-orang sih? Itu kotak apa besar banget?” piir ku dalam hati tidak ada perasaan apa-apa, “mama sama papa mana?” tanya ku lagi dalam hati. Mereka sibuk menenangkan kakek dan nenek sampai tidak ada yang sadar dengan kedatangan ku. Aku berjalan menuju garasi rumah memastikan mobil papa dan mama ada di tempatnya, namun ada Mba Fifi yang memergoki ku
“Mas Boy..” ujar mba Fifi. Aku menengok, aku terkekeh. Namun raut wajah mba Fifi semakin aneh, sedih dan seperti tidak dapat mengungkapkan apa-apa. Mba Fifi hanya memeluk ku dan menangis. Hah ini ada apa sih? Kenapa semua menangis, kenapa mama dan papa ngga ada
“mba fifi kenapa? Mba, nenek kenapa sih? Trus mba liat mama ngga ya? Kok semua pada aneh ya pagi ini, trus kayanya mobil papa juga ngga ada ya?” tanya ku masih tidak mengerti. Mba fifi hanya menatap ku, kasihan. Ya, tatapan itu yang aku rasakan. Tante Ivo datang dan memeluk ku lagi, mba fifi mundur dan menunduk.
“tante Ivo ada disini?” tanya ku lagi.
“boy.. hari ini boy ngga sekolah dulu ya sayang” ujar tante Ivo yang masih memeluk ku
“kenapa tante? Nenek bilang boy harus sekolah” ujar ku lagi
“gak apa-apa sayang, yuk ikut tante..” tante menggandeng tangan ku, aku masih menatap mba fifi yang masih saja melihat ku sambil menangis. Di ruang tamu semua sudah rapi bangku-bangku terlihat diluar, nenek hanya menatap kotak besar yang sudah terbuka. Aku semakin bingung, apa isi kotak itu. Aku tidak dapat menggapainya. Aku masih terlalu kecil, tante Ivo menggendong ku. Aku terdiam, aku tidak tahu harus mengatakan apa.
“mama, papa!!!!” teriak ku. Aku tidak mengerti kenapa aku teriak, aku tidak mengerti kenapa juga aku menangis memanggil nama itu, mama dan papa ku masih terlihat sangat ganteng dan cantik disana walau dalam keadaan tertidur. Ya mereka tidak menatap ku, mereka memejamkan matanya. Aku masih menangis sambil bertanya, “tante Ivo, mama papa kenapa bobo? Ini kan udah waktunya mereka kerja” ujar ku lagi. Tante Ivo tidak tahan mendengar suara ku, air matanya semakin deras mengalir, semua orang diruangan itu semakin pecah tangisnya. Terlebih kakek dan nenek. Tante Ivo semakin erat memeluk ku
“Boy, sekarang mama papa udah bobo. Mereka mau ketemu sama Tuhan Yesus..” ujar tante Ivo lagi. Aku semakin tidak mengerti. Aku hanya terdiam menatap mama dan papa yang masih saja tertidur. Waktu terus berputar, ada banyak pertanyaan di kepala ku. Kenapa, kenapa dan kenapa? Aku dimandikan, aku dipakaikan baju berwarna hitam dan aku kembali menatap papa dan mama. Aku baru teringat, “oh ya, tante Ivo dede bayi gimana kalau mama terus tidur kaya gitu?”
Tante Ivo tidak menjawab hanya semakin menangis, Bapak Pendeta datang dan memimpin upacara pemakanan mama dan papa. Aku belum mengerti kalau saat itu adalah saat dimana mama dan papa akan meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Aku hanya mengingat sebuah kalimat bapak pendeta ‘bahwa semuanya akan kembali pada Tuhan’ aku belum mengerti apa yang bapak pendeta katakan. Aku juga tidak mengerti suasan rumah ku pada hari itu yang aku tau semua orang yang datang hanya bisa menangis melihat ke arah ku dan memeluk ku. Aku hanya terdiam tidak mengerti namun sesekali aku hanya bisa menangis.
Tiba di acara yang paling menyakitkan bagi ku dan disini adalah puncak dari pertanyaan ku, kotak besar tempat mama dan papa tertidur di tutup. Apa sih kotak ini? Kotak ini jahat sekali, bagaimana mama dan papa bisa bernafas nantinya? Aku meronta, tante Ivo memeluk ku. Dia kaget akan responku, aku yang sedaritadi hanya diam akhirnya meronta.
“ini kenapa di tutup tante? Mama sama papa gimana nafasnya? Tante jangaaaan.. bilangin mereka jangan” teriak ku lagi. Tante Ivo hanya memeluk ku semakin erat, semua kembali menangis. Tante Ivo meminta petugas untuk menghentikan, aku semakin dekat dengan papa dan mama. Aku merasa dingin, hati ku sangat sedih.
“boy sayang, cium mama papa dulu ya..” ujar tante Ivo. Nenek sudah menutup wajahnya dan menangis dipelukan kakek. Aku bingung, namun aku menurut. Wah, dingin. Pikir ku, aku mencium mama dan papa dan mengelus pipi mereka “boy sayang mama papa” ujar ku tanpa sadar ku. Kotak besar itu kembali ditutup, aku kembali menangis. Namun mereka tidak menghiraukan lagi. Mama dan papa dimasukkan kedalam mobil ambulans, ya aku tau namanya karena aku punya mobil-mobilan ini. Aku mencoba membaca tulisan disamping mobil ambulans itu, jenazah? Jenazah itu apa?
“tante Ivo, jenazah itu apa?” tanya ku. Tante Ivo tersontak, bibirnya kaku. Tante Ivo tidak menjawab, namun om Ivan menjawab dengan sabar
“jenazah itu orang-orang yang pergi ke Tuhan Yesus, Boy.. jadi mama dan papa sekarang mau kita anterin ketemu Tuhan Yesus..” Tante Ivo hanya menangis memandang Om Ivan, “biar Vo, biar Boy sedikit ngerti. Karena cepat lambat dia pasti akan tau..”

Itulah yang kuingat tentang hari itu, tiap jamnya, tiap sudut ruangan dirumah ku, keadaan orang-orang disekeliling ku, bagaimana mereka memperlakukan ku, bagaimana semua orang berbicara pada ku. Aku ingat tiap saatnya tentang gambar di rumah ku, benar kalau orang bilang memori pada anak-anak akan cepat di rekam dan dimasukkan dalam memori.
Aku sudah berumur 8 tahun, ini artinya sudah 2 tahun sejak papa, mama, dan calon adikku pergi. Sekarang aku memiliki ketakutan, aku takut untuk tidur karena yang aku ingat, karena tidurlah aku kehilangan papa dan mama ku. Sekarang aku juga takut untuk kehilangan kakek dan nenek ku. Aku tumbuh sebagai remaja yang tanpa kasih sayang mama dan papa, namun kehadiran kakek dan nenek cukup membuat ku merasa aku dipenuhi oleh kasih sayang. Kepergian papa dan mama membuat hidup ku hancur, aku mengerti mereka sudah tiada ketika teman-teman ku berbicara pada ku
“eh boy, aku turut sedih ya sama kamu” ujar Felix teman ku.
“sedih kenapa, Lix?” tanya ku lagi
“iya karena mama dan papa mu udah meninggal” ujarnya lagi
“meninggal apa artinya?” tanya ku. Pada saat itu usia ku masih 6 tahun, saat itu 3 hari setelah papa dan mama meninggalkan ku.
“meninggal itu kata mama sama papa ku, pergi jauh dan ngga akan kembali lagi. Dan bakal sama-sama Tuhan Yesus di surga”
“hah? Kata siapa? Mama dan papa pasti pulang, mereka pulang sama adek ku” ujar ku lagi
“ngga gitu, Boy.. papa sama mama mu ngga akan pulang lagi, mereka kan udah ditanam di dalam tanah..”
Teman-teman ku begitu polos sama seperti ku saat itu, aku mengerti mengapa mereka mengatakan seperti itu. Karena memang itulah yang mereka tahu. Sejak saat itu aku mulai menanya kepada tante Ivo dan Om Ivan apa yang terjadi sebenarnya. Hati ku sangat terpukul, aku hanya merasa saat itu terlalu cepat, dengan usia ku yang masih berumur 6 tahun aku mengalami kejadian itu. Aku ditinggalkan oleh papa dan mama ku, aku mengerti istilah meninggal, aku mengerti istilah peti mati, aku mengerti istilah makam. Semua tante Ivo jelaskan, sayangnya hari itu aku memang tidak ikut pemakaman papa dan mama, karena mereka tidak ingin membuat ku trauma. Aku membenci alasan mereka, karena pada nyatanya aku sangat takut. Ya aku sangat takut akan kematian. Aku takut dengan bunyi ambulans, aku takut tidur, aku takut dengan peti mati. Karena mereka semua mengingatkan ku pada saat aku merasa seperti dibohongi oleh keluarga ku sendiri. Hanya 2 orang yang masih aku hargai, kakek dan nenek.
Hari-hari ku ku jalani dengan ketakutan, aku takut jika kakek semakin tua aku takut kehilangan mereka, aku takut nenek yang mulai sakit aku takut kehilangan mereka, bahkan aku takut untuk mati karena aku takut tidak bisa bersama dengan kakek dan nenek ku. Aku tumbuh menjadi anak yang insecure yang selalu was-was dan takut akan segala hal. Aku menjadi tidak bisa tertidur pada pagi hari dan hanya tertidur pada malam hari. Untuk itu kakek dan nenek memutuskan untuk menyekolahkan ku secara private. Guru private ku adalah kakak sekolah minggu ku dulu, Kak Ima namanya. Dia sangat baik dan sabar dengan sikap tertutup ku. Dia selalu mengingatkan ku akan firman Tuhan, perlahan aku mulai menerima keadaan namun aku masih sulit untuk berinteraksi, aku masih sulit melupakan masa lalu ku dahulu, aku merasa ini semua tidak adil.
Aku sudah beranjak kelas 6 SD dan aku masih menjalani les private, kabar buruk lagi harus ku terima karena yayasan sekolah private ku mengharuskan aku menjalani Ujian Nasional dengan teman-teman ku. Aku menolak habis-habisan, kakek dan nenek ku kembali memutar otak mereka begitu juga dengan Kak Ima. Aku mengurung diri di kamar, di kamar aku kembali memandang foto mama dan papa
“ma, pa.. apa kabar disana? Boy sekarang lagi sedih, ya tiap hari Boy emang sedih ma.. Boy ngga punya temen dan Boy hanya punya kakek nenek yang nemenin Boy. Selama bertahun-tahun ini Boy selalu nutup diri sama orang lain, Boy takut disakitin dan dibohongin sama orang lain, bahkan ma untuk nemenin nenek belanja aja, Boy milih di dalam mobil di basement. Boy takut ketemu orang, boy takut kehilangan dan berpisah sama orang yang boy temuin ma.. Boy udah kelas 6 loh ma sekarang, Boy mau ujian nasional katanya itu syarat supaya boy bisa masuk SMP. Emang iya ya ma? Boy nurut aja deh, tapi yang boy ngga suka kenapa harus ketemu sama orang sih ma? Boy udah nyaman begini kok. Kenapa harus bareng-bareng sama orang lain? Ma, boy bingung kenapa boy ngga bisa kaya temen-temen boy yang lain. Ada yang aneh sama penampilan boy, temen-temen selalu olok-olok boy kayak bapak-bapak. boy takut ma berteman sama mereka, boy takut kalau nanti boy sayang mereka dan mereka ninggalin boy kaya papa dan mama ninggalin boy bawa adek boy. Kenapa mereka ngga bisa ngerti dari sisi itu ma?” aku menangis memandang foto mama dan papa. Aku melemparkan pandangan ku pada salib yang ada di ruangan ku, “Tuhan Yesus, boy kenapa? Kenapa boy ngga bisa kaya anak-anak lain?”
Tok tok
Pintu kamar ku ada yang mengetok, ah suara kak Ima. Aku tau dia pasti mau berbicara pad aku, agak malas namun karena aku menghargai kak Ima, aku membukakannya pintu. Kak Ima tersenyum, dia menarik ku.
“ayo kita keluar. Kak Ima mau tunjukkin sesuatu sama kamu..” aku ditarik, walaupun aku belum menjawab apa-apa. Kak ima memang wanita hebat, dia sangat ceria dan menerima ku dengan sabar.
“kita mau kemana sih kak?” tanya ku
“udah liat aja ya boy” kak Ima berpamitan pada kakek dan nenek dan mengendarai mobilnya. Aku hanya duduk. Aku jadi ingat dahulu aku takut masuk ke dalam mobil, karena menurut ku mobil adalah yang membuat mama dan papa pergi, aku mengetahuinya setelah lagi-lagi tante Ivo memberitahu ku bahwa malam sesudah mama dan papa pulang dari resepsi pernikahan mobil mereka menabrak truk dan yang mengakibatkan aku kehilangan mereka. Aku hanya terdiam, aku tidak mengenal ada dimana aku.

Panti Asuhan Eunike
Panti Asuhan? Pelajaran yang kutahu, panti asuhan adalah tempat anak-anak yang tidak memiliki rumah dan orangtua. Kak Ima tersenyum pada ku, “kita sampe”
“boy ngga mau keluar kak” ujar ku ketus
“ayolah boy, kakak mohon. Selama ini kakak turutin apa yang boy mau kan? Sekarang gantian ya sayang?” ujar kak Ima. Aku tidak bisa menolak. Aku ikut turun, beberapa anak ada yang melihat kak Ima, mereka berteriak dan memeluk kak Ima.
“halo anak-anak, kenalin ini boy adik kak Ima” ujar kak Ima memperkenalkan ku
“loh kak ima punya adik? Kok baru dikenalin?” ujar salah seorang anak
Kak ima tersenyum pada ku, “hehe iya, adik kakak ini agak pemalu.. ayo kenalan”
Anak-anak di panti itu kelihatannya seumuran dengan ku, mereka menyapa ku. Sangat menyenangkan memang walau awalnya risih sekali, ini terlalu banyak dan ribut sekali. aku hanya memperhatikan mereka saja. Mereka bermain bersama kak ima, mereka tertawa, mereka membuat kue, memelihara binatang, dan belajar bersama. Ada rasa iri dalam hati ku, bagaimana bisa mereka melakukan seperti ini? Tidak terasa aku sudah berasa 8 jam di panti itu, Kak Ima berpamitan pulang pada Ibu Tere pengurus panti asuhan ini dan berjanji untuk kembali. Kak Ima mengajak ku pulang, aku punya banyak pertanyaan pada kak Ima.
Seperti mengetahui isi pikiran ku, Kak Ima bertanya dahulu
“jadi apa yang mau boy tanya sama kak Ima?” tanyanya sambil mengendarai mobil
“mereka tadi siapa kak?”
“mereka itu adik-adik kakak, mereka sama kaya boy..”
“sama gimana?”
“iya sama, mereka sama-sama malaikat kecil kakak, kaya kamu. Hehe. Mereka itu adik asuh kak Ima juga boy.. mereka juga udah ngga punya papa dan mama lagi”
Aku terdiam, “ngga punya mama papa lagi kak?” tanya ku
“iya sayang, kenapa? Boy iri mau kaya mereka atau malah sedih?”
“sedih sama iri kak”
“haha kok gitu sih dek, memang kenapa?”
“iya boy jadi inget papa dan mama tapi boy juga mau kaya mereka, mereka kayanya asyik banget ya kak..”
“iya, kakak ngerti perasaan boy. Sekarang kak Ima balik tanya ya dek, umur boy udah berapa?”
“12 tahun kak”
“udah remaja kan ya? Trus dari umur 6 tahun sampe sekarang boy udah punya temen siapa aja?”
“ada Felix waktu boy kelas 6, kakek, nenek,mba fifi, sama kak Ima”
“waah kalo yang tadi boy lihat temen-temen mereka ada banyak ngga sayang?”
“iya kak”
“boy tau, sejak kapan mereka ditinggal papa dan mamanya?”
“ngga kak, kapan?”
“sejak mereka lahir.. mereka lahir dan ditinggalkan papa dan mama mereka dan mereka ngga kenal siapa papa dan mama mereka”
“hah masa sih kak? Kok papa dan mama mereka tega?”
“ya kakak ngga ngerti ya sayang, tapi mungkin papa dan mamanya ngga sanggup biayain mereka, tapi pasti papa dan mama mereka sayang mereka”
Aku terdiam.
“dek, kamu tau kakak pernah ngobrol sama mereka dan tanya apa keinginan mereka? Kamu tau jawaban mereka apa?”
Aku menggeleng
“mereka bilang, mereka ngga mau ada anak-anak lain yang rasain apa yang mereka rasain. Mereka mau hidup mereka bisa jadi lebih berguna, mereka mau buat kegembiraan. Cita-cita mereka sama loh kaya boy.. mereka ada yang mau jadi dokter, pilot, perawat, guru. Mereka memang sedih, bahkan ngga kenal sama papa mama mereka, tapi mereka tau kalau ada yang lebih mengenal mereka sayang”
“siapa kak?”
“Tuhan Yesus, mereka percaya kalau Tuhan Yesus jagain mereka. Inget pesen kakak waktu sekolah minggu dulu? Tuhan adalah...”
“..gembala ku takkan kekurangan apapun”
“yap! Itu adek kakak pinter, mereka Cuma inget kata-kata itu aja sayang”
“itu bisa nguatin mereka?”
“iya tentu, kapan terakhir boy bilang kalimat itu?”
“malam sebelum papa dan mama pergi ke acara nikahan temennya papa. Waktu itu boy bilang itu karena boy takut waktu mama dan papa pergi..”
“nah habis boy bilang itu apa yang boy rasain?”
“boy tenang dan boy malah bobo kak”
“nah itu pinter dek..”
“iya boy malah tertidur lelap dan baru bangun paginya. Makanya boy takut bobo sekarang”
“wah boy sayang sekali sayang..”
“sayang kenapa kak?”
“iya coba sekarang boy renungin dan pikirin deh, kalau boy ngga bobo dan malah nunggu papa dan mama.. pasti boy malah denger kejadian kecelakaan papa dan mama dan akan inget itu seumur hidup boy. Boy bakal banyak takut sama yang lain bukan Cuma tidur, sirene ambulans, peti mati.. karena usia boy pada waktu itu, usia dimana boy inget sama semua hal yang boy lihat.. coba kalau boy lihat keadaan papa dan mama di rumah sakit. Makanya kakek dan nenek sengaja ngga bangunin boy karena memang boy tidurnya lelap banget sayang”
Aku terdiam, rasanya seperti dihantam batu besar namun batu itu menghancurkan luka ku dan aku mulai berpikir terang, “tapi kak, kenapa boy baru ngerti apa arti meninggal setelah boy udah umur 7 tahun?”
“hm kalau itu, coba deh boy bayangin kalau boy ngerti sama kata-kata meninggal pasti boy bakal mikir kalau papa dan mama boy jahat pergi dan ngga mau kembali lagi. Tapi Tuhan izinin itu belakangan, setelah boy tau istilah-istilahnya dan baru dikasih tau apa artinya”
“trus kak kenapa boy ngga bisa tidur?”
“sekarang kenapa boy ngga mau tidur?” tanya kak Ima lagi
“boy takut kehilangan kakek dan nenek kaya boy kehilangan papa dan mama”
“salah, boy Cuma takut kalau boy akan pergi kaya papa dan mama dan ngga bisa ketemu kakek dan nenek. Boy Cuma takut sama kata berpisah kok, boy makanya ngga mau punya temen. Karena  boy ngga suka nanti berpisah dan jauhan sama temen boy..”
Lagi-lagi aku diam, aku mengiyakan kata-kata Kak Ima. Ih, jangan-jangan Kak Ima dukun nih.
“kok kak Ima tau semua yang boy pikirin sih?” tanya boy
“itu semua karena kak ima udah sayang sama boy.. Boy, kak Ima bisa seperti ini sama boy karena papa boy adalah sahabat Kak Ima, tante Ivo sama om Ivan khawatir banget sama boy dan minta tante ajarin boy. Mereka sayang banget sama boy, begitu juga kak ima.. Kakak ngerti perasaan boy dulu, kak ima juga tau gimana kesedihan boy pada saat umur itu ditinggal papa dan mama. Tapi boy, boy punya tante Ivo, om Ivan, kakek, nenek, kak ima, sama saudara boy yang lain. Mereka takut nyinggung perasaan boy kalau ngomong langsung dan perhatiin boy langsung karena sikap boy yang menutup diri. Boy cuek, ngga mau keluar rumah, kalau ada acara di rumah boy malah masuk kamar. Mereka jadi takut salah, coba deh Tuhan Yesus kurang sayang apa sama boy? Ya kan? Bahkan boy lupain mantra sakti kalau mau dapet ketenganan dari Tuhan Yesus kan? Hehe” tanya kak ima lagi
Aku menangis, tidak sadar air mata ku mengalir begitu deras. “kak ima, boy kurang bersyukur ya namanya? Boy ngga bisa tau ya kalau ternyata Tuhan Yesus udah rencanain yang terbaik buat boy dan boy ngga bisa bales perbuatan Tuhan sama boy..”
“adik kakak ini.. ini yang buat kakak sayang banget sama boy, boy punya hati malaikat. Boy tulus sekali loh dek hati kamu sebenarnya, tapi ada satu sisi hati kamu yang sangat terluka dan minya dikonfirmasi lukanya hehe. Maaf ya sayang kakak baru konfirmasi sekarang, menurut kakak ini waktu  yang tepat aja..”
“terimakasih ya kak Ima kakak udah kaya mama aku”
“sama-sama sayang, jadi sekarang?”
“Tuhan adalah gembala ku, takkan kekurangan apapun.. aku masuk dulu ya kak, besok kita ketemu lagi”
Tidak sadar bahwa kami sudah sampai di depan rumah, aku masuk ke dalam dan kak Ima pulang. Aku memeluk nenek ketika sampai di rumah, “terimakasih ya nek mau sabar sama Boy yang susah banget diurusin, terimakasih mau urus boy..”
Nenek menatap ku, memeluk ku lagi dan menangis “Boy, cucu nenek” kakek juga datang memeluk ku. Aku pamit untuk naik ke atas, aku tidak sabar menceritakan ini pada mama dan papa. Aku naik ke tempat tidur ku , sambil mengambil foto mama dan papa
“terimakasih ya ma, pa.. Boy ngga pernah nyesel udah kenal sama papa dan mama boy walaupun Cuma 6 tahun aja. Tapi pa, ma.. 6 tahun itu adalah 6 tahun yang luar biasa istimewa buat boy, 6 tahun yang ngga akan pernah boy lupain. Boy janji ma, pa.. Boy mau buat hidup boy lebih berguna buat orang lain, someday boy akan buat mama dan papa bangga pernah punya boy dalam hidup mama dan papa. Terimakasih Tuhan udah buka hati boy..”

20 Tahun kemudian
“dok, ibu ini mengalami pendarahan” ujar seorang perawat pada ku. Aku memperhatikan wajah perawat itu yang penuh peluh, aku mengikutinya. Aku mendengar ada keributan kecil antara pihak admistrasi dengan keluarga korban
“ini ngga bisa ditangani dulu pak.. maaf ya, bapak harus menyediakan uang sebesar ini” ujar pihak administrasi.
“ada apa ini?” tanya ku lagi
“ini dok, keluarga ini..” belum selesai berbicara aku memotong
“kamu ini gimana sih? Udah pak ngga usah di pikirin saya yang urus. Suster, siapin ruangan untuk isteri bapak ini”
“tapi dok..”
“saya yang tanggung jawab”
“terimakasih dokter.. terimakasih”

Aku berkunjung ke makam papa dan mama, aku meletakkan jas dokter ku ditengah mereka.
“ini untuk papa dan mama, aku tepatin janji mama dan papa. Aku berjuang selama ini, untuk dapet jubah ini dan bisa pake ma, pa. Semoga dengan ini ngga ada lagi ya yang bisa ngerasain apa yang aku rasain waktu dulu. Aku sayang mama dan papa. Oh ya, ma pa.. aku bangga bisa jadi anak papa dan mama, sampai kapan pun”
Aku tersadar, ini adalah bagian hidup ku. Tuhan sungguh jadi skenario terhebat dalam hidup ku, Dia merangkai hidup ku dari kecil sampai sebesar ini. Kenyataannya adalah, setiap orang memang harus pergi namun siapa yang pergi dahulu hanya berbicara soal waktu. Namun satu hal yang aku percaya dan sangat menguatkan ku adalah ketika Dia mengambil orang yang kita sayangi, Dia akan memberikan lagi gantinya untuk menyatakan bahwa Dia tidak membiarkan kita tenggelam dalam luka yang berkepanjangan. Ya kita manusia dan salah satu sifat manusia adalah mudah terluka dan sakit hati, namun ‘Tuhan adalah gembala ku takkan kekurangan apapun’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar