Kamis, 12 Juli 2012

Libur tlah tiba (part I)


Libur tlah tiba libur tlah tiba horeey horeey horeey!
Simpanlah tas dan buku mu lupakan keluh kesah mu
Libur tlah tiba libur tlah tiba hati ku gembira

Lagu itu terus mengalun di pikiran ku, aku dalam perjalanan menuju rumah nenek. Pada liburan kali ini papa mengajak ku ke desa, tempat nenek dan kakek ku tinggal. Awalnya aku sempat merasa jengkel, karena sesuai perjanjian papa mengajak ku ke Singapore. Aku ingin ke sentosa island aku sudah membayangkan bagaimana aku menghabiskan liburan ku. Tapi kali ini aku harus menurut kepada papa karena nenek mendadak meminta kami untuk pulang, aku tidak menyalahkan papa aku hanya kesal dengan keadaan. Ya, sementara hanya lagu itu yang jadi mood booster ku.
Sepanjang jalan aku hanya melihat kanan kiri, tidak ada obrolan karena aku memang tidak tertarik untuk mengobrol. Aku melirik jam tangan, ‘yah elah masih 3 jam lagi baru nyampe’ keluh ku. Papa memperhatikan ku dari kaca di depan, papa menengok ke arah mama. Mereka hanya menghela nafas, mama mencoba mengobrol dengan ku
“Cam, kamu ngga mau ngemil apa gitu? Itu mama udah bawain loh makanan sama minuman kesukaan kamu sayang” ujar mama dengan kelembutannya
“iya tuh Cam, kamu ngga suka sama coklatnya?” tanya papa
“ngga ma, pa. Makasih ya.. Kalo papa cape nyetir gantian sama aku aja” kata ku lagi
“weees anak papa baik banget” goda papa mencoba mencairkan suasana
Aku hanya tersenyum simpul, membesarkan volume ipad ku. Memang aku sebal dengan keadaan tapi aku tidak bisa marah dengan papa atau mama karena bukan mereka yang menginginkan hal ini. Aku juga tidak tahu kenapa nenek sangat ingin bertemu kami, ya aku mencoba berpikir positif saja dengan keinginan nenek. Ada sedikit rasa senang dihati ku ketika melihat hamparan sawah, bukan karena mau sampai tapi karena ada sedikit kedamaian dan ketenangan disana. Yang aku ingat ketika di rumah nenek, aku bisa bermain ke pantai bersama sepupu ku. Ya itulah sisi positif berlibur di desa. Walaupun ini desa, tapi sejujur nya aku suka disini. Sejuk, damai, dan sangat tenang.
3 jam perjalanan yang akhirnya aku habiskan dengan tidur pun berlalu. Mobilku berhenti dan aku sudah sampai di depan rumah nenek, sambil mengucek mata ku aku melihat nenek menghampiri ku di mobil
“Camelia, cucu kesayangan nenek” ujar nenek memeluk ku
“halo nenek..” sapa ku balik, aku melihat kakek yang duduk di kursi roda memanggil ku. Aku turun, nenek sambil menggandeng tangan ku. Aku sungkem dengan kakek, “halo kek, apa kabar? Cam kangen sama kakek” ujar ku
“iya iya.. kakek juga kangen sama kalian” jawab kakek dengan suara bijaksananya
“ayo semua masuk, nenek udah masak soto sama opor kesukaannya Cam loh”
“waaah, Cam kangen nek..” aku mulai semangat, soto dan opor ayam buatan nenek memang tidak ada duanya, sangat enak. Aku bersemangat mengambil piring, aku sengaja tidak meminta makan di jalan karena tau pasti nenek akan memasakkan makanan kesukaan ku.
“nek, Wisnu mana?” tanya ku, Wisnu adalah anak yatim piatu yang sudah dirawat nenek dari kecil, aku menganggap dia saudara sepupu ku.
“oh si Wisnu, biasa lagi di ladang anggur kita” jawab kakek, nenek masih sibuk menyendoki nasi kami. Aku tidak pernah dibiarkan menyendoki nasi, untuk kali ini nenek mau melayani kami dengan maksimal katanya. Ini yang membuat ku nyaman disini, pelayanan dan apa yang mereka lakukan selalu tulus.
“oh ya, kebun anggur. Gimana anggurnya kek? Udah banyak?” tanya ku lagi
“iya udah bisa dipanen kok sayang” jawab nenek
“aaa mau, Cam mau..”
“iya makan dulu ya sayang, nanti nenek panggilkan Wisnu biar anterin kamu”
“um ngga usah nek, biar Cam yang susul aja. Dia belum makan juga kan? Biar Cam yang bawain sekalian” ujar ku lagi
Nenek dan kakek setuju. Aku makan dengan sangat lahap, udara dingin namun sejuk dan suasana perut yang lapar sangat menggugah selera makan ku. Nenek meminta Bibi menyiapkan rantang untuk ku bawa buat Wisnu. Setelah makan, aku mengambil rantang dan berjalan menuju ladang. Aku suka berjalan disini, aku melewati sungai, hamparan kebun sawi yang sedang mekar, cabai yang sedang memerah, dan buah-buahan yang sedang masak. Kakek dan Nenek ku termasuk orang terpandang di kampung ini, ya ini baru ku ketahui 2 tahun belakangan ini, itu juga ketika aku terjatuh dari pohon yang menyebabkan aku pingsan ketika orang-orang tahu aku adalah cucu kakek mereka semua sibuk menolong ku. Hah membosan dengan kamuflase ini. Sepanjang jalan ini orang-orang tidak begitu mengenali ku, karena aku mengganti pakaian ku dengan daster bibi, rambut ku dikepang dan dengan rantang hehe persis seperti gadis desa, eh kembang desa dong ya.
Dari kejauhan aku sudah bisa melihat Wisnu yang asik memetik anggur kakek. Aku datang dari belakang
“mas, anggurnya boleh minta?” goda ku sambil mengambil anggur yang di keranjang
“duh jangan mba, ini punya....” Wisnu tidak melanjutkan obrolannya karena dia menatap ku sekarang, “um.. Cam..Camelia??” tanya Wisnu tidak percaya
“hahaha masih inget aku?” tanya ku lagi, “halo Wis, ini Cam” ujar ku lagi
“hah? Ahahahaha kamu kenapa? Ini daster bibi kan?” tanya Wisnu lagi
“iya iya.. cocok kan aku?” tanya ku sambil berputar
“kamu keliatan lebih ndeso, Cam.. hahaha” jawab Wisnu
“huuuh, ngeledek. Tapi manis kan? Eh ya peluk aku dulu doong” ujar ku sambil membentangkan tangan. Wisnu tertawa dan memeluk ku
“wah kangen banget ya sama kamu, sombong nih ngga pernah main. Katanya mau ke singapur kan liburan semester ini?”
“iya, awalnya. Tapi nyonya nih minta kita semua kesini” jawab ku sambil tertawa, “hey, aku bawain soto sama opor buatan nenek, enak banget loh! Tadi aku nambah terus. Eh bahkan aku masih nambahin buat aku makan disini hehe disini suasananya asik banget” ujar ku
“oh ya? Kebetulan aku udah laper, ayo ayo makan..” ajak Wisnu. Kami berjalan ke rumah singgah di belakang kebun anggur. Rumah ini sangat menyenangkan, terkadang aku lebih suka disini dibanding rumah kakek yang sudah menggunakan ac. Disini lebih alami dan lebih sejuk.
“gimana kabar kuliah kamu Cam?” tanya Wisnu
“kuliah lancar kok, taun depan kkn dong akunya” jawab ku
“oh ya? Wah mau kkn dimana?”
“entah belum tau dimana, oh ya gimana kerjaan kamu?”
“habis libur ini, aku dipindah ke Lombok, Cam.. makanya liburan ini aku sempetin ambil cuti sekalian buat jenguk kakek sama nenek”
“waah sedih deh nanti kalo main kesini ngga bisa ketemu Wisnu lagi”
“wahaha lebay kamu! Kan bisa telepon, kalo kamu telepon aku dateng deh”
“gaya kamu! Eh ya, main ke lombok bisa kali ya akomodasi gratisan nih”
“sip deeeh atur aja ya nyonya”
Aku terkekeh mendengar jawaban Wisnu, aku memang sangat dekat dengan Wisnu, dia pria yang menyenangkan dan sangat ramah. Wisnu juga jarang meminta yang macam-macam dia sangat low profile dan sangat bijaksana. Aku menyukai Wisnu, ya suka disini karena aku tertarik dengan kepribadiannya dan belum berpikir untuk lebih
“wis, disini itu asik banget yaa” ujar ku, kami sudah selesai makan. Habis makan kami merebahkan diri di teras rumah singgah
“iya, disini emang enak Cam.. ini yang buat aku selalu kangen sama tempat ini”
“iya.. sejuk, damai, tenang banget”
“ciee anak kota main ke desa”
“apaan sih Wis..” aku mencubit tangan Wisnu. Aku bangkit duduk, “eh ya, cerita soal cewe yang waktu itu pernah kamu ceritain ke aku”
“cewe yang mana?” Wisnu masih santai
“iish Wisnu, yang itu loh.. yang waktu itu kamu ceritain di telepon, 2 minggu yang lalu”
“oh itu, si Gladis. Dia biasa aja kok Cam..”
“yaah Wisnu.. ngga ada progres buat deketin dia?” tanya ku, aneh loh ada rasa bergetar ketika aku menanyakan itu dan aku berharap cemas dengan jawaban Wisnu
“progresnya ada ngga ya? Agak males bahas progres nih, biasa aja sih Cam..”
“deketin dong Wis..” aku melanjutkan obrolan ini, entah mengapa ada rasa seru dan senang
“males ah.. kayanya orangnya ngga asik”
“cantik looh..” goda ku
“loh loh, Cam.. sejak kapan aku suka cewe karena fisiknya yang pertama?”
“haha canda.. sensitif banget sih”
“dia udah deket sama cowo lain, Cam.. aku pergokin dia jalan sambil pegangan tangan trus mesra banget..” suara Wisnu menjadi lirih dan aku sebal. Ih kok lirih sih, biasa aja kek
“oh gitu.. sabar ya Wis..” aku Cuma bisa menjawab seperti itu
“kamu sendiri gimana?”
Aku kalap, ah ditanya balik nih. Jerit ku dalam hati, “gimana apanya? Eh ehehe” aku terkekeh
“iya cowo yang deket sama kamu?” Wisnu tetap dengan posisi tertidur
“ngga ada, Wis.. um ada sih yang lagi aku suka, tapi ya belum yakin aja sama perasaan aku”
“oh ya? Siapa?” tanya Wisnu dengan senyumnya
Aaaa manis dan nenangin banget sih ini senyuman, duh Cam kendaliin diri lo. Ujar ku dalam hati, “aaah ada deh, masih rahasia dulu ya. Belum asik kalo diceritain sekarang”
“haha oke, i’ll wait. Nanti kalo udah cerita yaa”
“sip.. eh ya, ayoo petik anggurnya lagi. Aku mau cobain langsung dari pohon”
Wisnu segera bangkit dan tersenyum sambil mengulurkan tangannya, “ayoo..”
Aaa how sweat, “yuuuk” aku tersenyum
Wisnu memetik beberapa anggur, aku langsung memakannya. Ah manis sekali anggur ini, aku suka saat-saat seperti ini. Kesederhanaan yang Wisnu punya bisa membuat ku sangat nyaman, keterbukaannya dan senyumnya yang sangat meneduhkan diri sangat membuat ku merasa nyaman juga bercerita dengannya.
Entah ini perasaan seperti apa, tapi kenyamanan ini sudah terasa beda kalau dia sudah membahas wanita lain. aku masih mengartikan kalau dia adalah sepupu ku, ya bukan sepupu kandung memang. Tapi dia juga cucu kakek dan nenek, setidaknya kakek dan nenek sudah merawatnya dari kecil dan kami sudah bermain sejak kecil. Aku menganggap Wisnu adalah kakak ku, tapi semakin aku besar aku semakin merasa bahwa Wisnu adalah lelaki idaman tiap wanita.
‘hush ngaco aja nih pikiran, Cam Cam.. ayoo wake up! Wisnu itu sepupu mu..” ujar ku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar