Libur tlah tiba
libur tlah tiba horeey horeey horeey!
Simpanlah tas dan
buku mu lupakan keluh kesah mu
Libur tlah tiba
libur tlah tiba hati ku gembira
Lagu
itu terus mengalun di pikiran ku, aku dalam perjalanan menuju rumah nenek. Pada
liburan kali ini papa mengajak ku ke desa, tempat nenek dan kakek ku tinggal. Awalnya
aku sempat merasa jengkel, karena sesuai perjanjian papa mengajak ku ke
Singapore. Aku ingin ke sentosa island aku sudah membayangkan bagaimana aku
menghabiskan liburan ku. Tapi kali ini aku harus menurut kepada papa karena
nenek mendadak meminta kami untuk pulang, aku tidak menyalahkan papa aku hanya
kesal dengan keadaan. Ya, sementara hanya lagu itu yang jadi mood booster ku.
Sepanjang
jalan aku hanya melihat kanan kiri, tidak ada obrolan karena aku memang tidak
tertarik untuk mengobrol. Aku melirik jam tangan, ‘yah elah masih 3 jam lagi
baru nyampe’ keluh ku. Papa memperhatikan ku dari kaca di depan, papa menengok
ke arah mama. Mereka hanya menghela nafas, mama mencoba mengobrol dengan ku
“Cam,
kamu ngga mau ngemil apa gitu? Itu mama udah bawain loh makanan sama minuman
kesukaan kamu sayang” ujar mama dengan kelembutannya
“iya
tuh Cam, kamu ngga suka sama coklatnya?” tanya papa
“ngga
ma, pa. Makasih ya.. Kalo papa cape nyetir gantian sama aku aja” kata ku lagi
“weees
anak papa baik banget” goda papa mencoba mencairkan suasana
Aku
hanya tersenyum simpul, membesarkan volume ipad ku. Memang aku sebal dengan
keadaan tapi aku tidak bisa marah dengan papa atau mama karena bukan mereka
yang menginginkan hal ini. Aku juga tidak tahu kenapa nenek sangat ingin
bertemu kami, ya aku mencoba berpikir positif saja dengan keinginan nenek. Ada sedikit
rasa senang dihati ku ketika melihat hamparan sawah, bukan karena mau sampai
tapi karena ada sedikit kedamaian dan ketenangan disana. Yang aku ingat ketika
di rumah nenek, aku bisa bermain ke pantai bersama sepupu ku. Ya itulah sisi
positif berlibur di desa. Walaupun ini desa, tapi sejujur nya aku suka disini. Sejuk,
damai, dan sangat tenang.
3
jam perjalanan yang akhirnya aku habiskan dengan tidur pun berlalu. Mobilku berhenti
dan aku sudah sampai di depan rumah nenek, sambil mengucek mata ku aku melihat
nenek menghampiri ku di mobil
“Camelia,
cucu kesayangan nenek” ujar nenek memeluk ku
“halo
nenek..” sapa ku balik, aku melihat kakek yang duduk di kursi roda memanggil ku.
Aku turun, nenek sambil menggandeng tangan ku. Aku sungkem dengan kakek, “halo
kek, apa kabar? Cam kangen sama kakek” ujar ku
“iya
iya.. kakek juga kangen sama kalian” jawab kakek dengan suara bijaksananya
“ayo
semua masuk, nenek udah masak soto sama opor kesukaannya Cam loh”
“waaah,
Cam kangen nek..” aku mulai semangat, soto dan opor ayam buatan nenek memang
tidak ada duanya, sangat enak. Aku bersemangat mengambil piring, aku sengaja
tidak meminta makan di jalan karena tau pasti nenek akan memasakkan makanan
kesukaan ku.
“nek,
Wisnu mana?” tanya ku, Wisnu adalah anak yatim piatu yang sudah dirawat nenek
dari kecil, aku menganggap dia saudara sepupu ku.
“oh
si Wisnu, biasa lagi di ladang anggur kita” jawab kakek, nenek masih sibuk
menyendoki nasi kami. Aku tidak pernah dibiarkan menyendoki nasi, untuk kali
ini nenek mau melayani kami dengan maksimal katanya. Ini yang membuat ku nyaman
disini, pelayanan dan apa yang mereka lakukan selalu tulus.
“oh
ya, kebun anggur. Gimana anggurnya kek? Udah banyak?” tanya ku lagi
“iya
udah bisa dipanen kok sayang” jawab nenek
“aaa
mau, Cam mau..”
“iya
makan dulu ya sayang, nanti nenek panggilkan Wisnu biar anterin kamu”
“um
ngga usah nek, biar Cam yang susul aja. Dia belum makan juga kan? Biar Cam yang
bawain sekalian” ujar ku lagi
Nenek
dan kakek setuju. Aku makan dengan sangat lahap, udara dingin namun sejuk dan
suasana perut yang lapar sangat menggugah selera makan ku. Nenek meminta Bibi
menyiapkan rantang untuk ku bawa buat Wisnu. Setelah makan, aku mengambil
rantang dan berjalan menuju ladang. Aku suka berjalan disini, aku melewati
sungai, hamparan kebun sawi yang sedang mekar, cabai yang sedang memerah, dan
buah-buahan yang sedang masak. Kakek dan Nenek ku termasuk orang terpandang di
kampung ini, ya ini baru ku ketahui 2 tahun belakangan ini, itu juga ketika aku
terjatuh dari pohon yang menyebabkan aku pingsan ketika orang-orang tahu aku
adalah cucu kakek mereka semua sibuk menolong ku. Hah membosan dengan kamuflase
ini. Sepanjang jalan ini orang-orang tidak begitu mengenali ku, karena aku
mengganti pakaian ku dengan daster bibi, rambut ku dikepang dan dengan rantang
hehe persis seperti gadis desa, eh kembang desa dong ya.
Dari
kejauhan aku sudah bisa melihat Wisnu yang asik memetik anggur kakek. Aku datang
dari belakang
“mas,
anggurnya boleh minta?” goda ku sambil mengambil anggur yang di keranjang
“duh
jangan mba, ini punya....” Wisnu tidak melanjutkan obrolannya karena dia
menatap ku sekarang, “um.. Cam..Camelia??” tanya Wisnu tidak percaya
“hahaha
masih inget aku?” tanya ku lagi, “halo Wis, ini Cam” ujar ku lagi
“hah?
Ahahahaha kamu kenapa? Ini daster bibi kan?” tanya Wisnu lagi
“iya
iya.. cocok kan aku?” tanya ku sambil berputar
“kamu
keliatan lebih ndeso, Cam.. hahaha” jawab Wisnu
“huuuh,
ngeledek. Tapi manis kan? Eh ya peluk aku dulu doong” ujar ku sambil
membentangkan tangan. Wisnu tertawa dan memeluk ku
“wah
kangen banget ya sama kamu, sombong nih ngga pernah main. Katanya mau ke
singapur kan liburan semester ini?”
“iya,
awalnya. Tapi nyonya nih minta kita semua kesini” jawab ku sambil tertawa, “hey,
aku bawain soto sama opor buatan nenek, enak banget loh! Tadi aku nambah terus.
Eh bahkan aku masih nambahin buat aku makan disini hehe disini suasananya asik
banget” ujar ku
“oh
ya? Kebetulan aku udah laper, ayo ayo makan..” ajak Wisnu. Kami berjalan ke
rumah singgah di belakang kebun anggur. Rumah ini sangat menyenangkan,
terkadang aku lebih suka disini dibanding rumah kakek yang sudah menggunakan
ac. Disini lebih alami dan lebih sejuk.
“gimana
kabar kuliah kamu Cam?” tanya Wisnu
“kuliah
lancar kok, taun depan kkn dong akunya” jawab ku
“oh
ya? Wah mau kkn dimana?”
“entah
belum tau dimana, oh ya gimana kerjaan kamu?”
“habis
libur ini, aku dipindah ke Lombok, Cam.. makanya liburan ini aku sempetin ambil
cuti sekalian buat jenguk kakek sama nenek”
“waah
sedih deh nanti kalo main kesini ngga bisa ketemu Wisnu lagi”
“wahaha
lebay kamu! Kan bisa telepon, kalo kamu telepon aku dateng deh”
“gaya
kamu! Eh ya, main ke lombok bisa kali ya akomodasi gratisan nih”
“sip
deeeh atur aja ya nyonya”
Aku
terkekeh mendengar jawaban Wisnu, aku memang sangat dekat dengan Wisnu, dia
pria yang menyenangkan dan sangat ramah. Wisnu juga jarang meminta yang
macam-macam dia sangat low profile dan sangat bijaksana. Aku menyukai Wisnu, ya
suka disini karena aku tertarik dengan kepribadiannya dan belum berpikir untuk
lebih
“wis,
disini itu asik banget yaa” ujar ku, kami sudah selesai makan. Habis makan kami
merebahkan diri di teras rumah singgah
“iya,
disini emang enak Cam.. ini yang buat aku selalu kangen sama tempat ini”
“iya..
sejuk, damai, tenang banget”
“ciee
anak kota main ke desa”
“apaan
sih Wis..” aku mencubit tangan Wisnu. Aku bangkit duduk, “eh ya, cerita soal
cewe yang waktu itu pernah kamu ceritain ke aku”
“cewe
yang mana?” Wisnu masih santai
“iish
Wisnu, yang itu loh.. yang waktu itu kamu ceritain di telepon, 2 minggu yang
lalu”
“oh
itu, si Gladis. Dia biasa aja kok Cam..”
“yaah
Wisnu.. ngga ada progres buat deketin dia?” tanya ku, aneh loh ada rasa
bergetar ketika aku menanyakan itu dan aku berharap cemas dengan jawaban Wisnu
“progresnya
ada ngga ya? Agak males bahas progres nih, biasa aja sih Cam..”
“deketin
dong Wis..” aku melanjutkan obrolan ini, entah mengapa ada rasa seru dan senang
“males
ah.. kayanya orangnya ngga asik”
“cantik
looh..” goda ku
“loh
loh, Cam.. sejak kapan aku suka cewe karena fisiknya yang pertama?”
“haha
canda.. sensitif banget sih”
“dia
udah deket sama cowo lain, Cam.. aku pergokin dia jalan sambil pegangan tangan
trus mesra banget..” suara Wisnu menjadi lirih dan aku sebal. Ih kok lirih sih,
biasa aja kek
“oh
gitu.. sabar ya Wis..” aku Cuma bisa menjawab seperti itu
“kamu
sendiri gimana?”
Aku
kalap, ah ditanya balik nih. Jerit ku dalam hati, “gimana apanya? Eh ehehe” aku
terkekeh
“iya
cowo yang deket sama kamu?” Wisnu tetap dengan posisi tertidur
“ngga
ada, Wis.. um ada sih yang lagi aku suka, tapi ya belum yakin aja sama perasaan
aku”
“oh
ya? Siapa?” tanya Wisnu dengan senyumnya
Aaaa
manis dan nenangin banget sih ini senyuman, duh Cam kendaliin diri lo. Ujar ku
dalam hati, “aaah ada deh, masih rahasia dulu ya. Belum asik kalo diceritain
sekarang”
“haha
oke, i’ll wait. Nanti kalo udah cerita yaa”
“sip..
eh ya, ayoo petik anggurnya lagi. Aku mau cobain langsung dari pohon”
Wisnu
segera bangkit dan tersenyum sambil mengulurkan tangannya, “ayoo..”
Aaa
how sweat, “yuuuk” aku tersenyum
Wisnu
memetik beberapa anggur, aku langsung memakannya. Ah manis sekali anggur ini,
aku suka saat-saat seperti ini. Kesederhanaan yang Wisnu punya bisa membuat ku
sangat nyaman, keterbukaannya dan senyumnya yang sangat meneduhkan diri sangat
membuat ku merasa nyaman juga bercerita dengannya.
Entah
ini perasaan seperti apa, tapi kenyamanan ini sudah terasa beda kalau dia sudah
membahas wanita lain. aku masih mengartikan kalau dia adalah sepupu ku, ya
bukan sepupu kandung memang. Tapi dia juga cucu kakek dan nenek, setidaknya
kakek dan nenek sudah merawatnya dari kecil dan kami sudah bermain sejak kecil.
Aku menganggap Wisnu adalah kakak ku, tapi semakin aku besar aku semakin merasa
bahwa Wisnu adalah lelaki idaman tiap wanita.
‘hush
ngaco aja nih pikiran, Cam Cam.. ayoo wake up! Wisnu itu sepupu mu..” ujar ku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar