ketika gue nulis judul ini, gue punya banyak pikiran. seperti semua hal ada dalam pikiran gue, layaknya sinaps yang saling ingin melompat menuju satu yang lain dan menciptakan suatu pemikiran baru ya, belajar. semua ada di pikiran ku, saling terhubung dan saling mengaitkan satu dengan yang lain.
aku merasakan menurunnya kualitas ku kepada sekolah minggu. aku mudah lelah, aku tidak fokus, tidak cepat dan tanggap. tidak seperti dahulu. apa terlalu banyaknya beban pikiran ku? atau terlalu banyaknya aktivitas ku? atau tidak adanya teman bercerita?
pukulan ini aku rasakan hari ini.
Hardista dan kawan-kawan membawa junior mereka di sekolah minggu. aku menyambutnya dengan semangat, puji Tuhan bertambah jiwa-jiwa yang ingin melayani Dia lewat adik-adik. tadi itu, aku memimpin pujian. karena rekan-rekan ku belum bisa menguasai adik-adik skm. huh mungkin aku salah, aku tidak membiarkan mereka belajar. hari ini dan hari-hari sebelumnya orangtua memang sangat banyak yang masuk ke dalam ruangan, ruangan menjadi lebih panas. adik-adik juga banyak yang hadir. hingga aku kehilangan kendali dan aku tidak fokus ditambah tidak adanya tikar diatas. huaaaah
Kak Eli, senior guru kelas A datang. Dia membantu ku mengendalikan kelas, aku sangat terbantu oleh kehadiran Kak Eli. Kak Eli memberikan masukan yang, ya aku sudah tau dan aku sudah pernah lakukan itu dahulu. aku tidak mengerti, aku hanya bisa terdiam. dan pada saat itu aku tersadar bahwa aku mengalami kemunduran. aku mengaitkan hal dunia dengan pelayanan ku, aku tidak sportif ketika aku memiliki masalah dengan kawan sepelayanan ku, aku tidak sportif ketika iblis membiarkan perasaan ku memenangkan diri ku terbawa perasaan dengan teman sepelayanan ku, aku tidak sportif ketika aku merasa bahwa aku hebat dan lebih berpengalaman.
berterimakasih ketika semua karakter dan kesalahan ku dibuka dan aku diberi masukan lewat mata kuliah ku, ketika Pak Hans mengatakan untuk epoche, ketika mendengarkan semua pandangan subyektif manusia dengan semua ilmu yang mereka punya, dengan mendengarkan apa yang hati katakan, dengan belajar merendahkan diri, dan dengan belajar untuk menjadi terang.
tersadar ketika aku jauh di bawah dari teman-teman ku yang lebih hebat dari ku dan aku membiarkan diri ku dikuasai oleh keinginan iblis untuk tetap merasa hebat. tersentak, ketika firman yang aku sampaikan kepada adik-adik sekolah minggu adalah tentang kerendahan hati yang artinya aku yang secara subyektif mengambil pesan firman itu. entah suatu kebetulan yang manis atau apa, tapi aku hanya bisa terdiam.
terlebih karena aku penanggung jawab kelas A, aku merasa aku gagal ketika aku tidak bisa menuntun teman-teman yang lebih muda pengalamannya dalam sekolah minggu tidak dapat merasa membutuhkan dan menyayangi adik-adik dan adik-adik tidak dapat menyayangi mereka.
aku harus lebih banyak belajar, belajar mengutamakan prioritas mana yang harus aku lakukan dan tidak, mempraktekkan ilmu yang aku peroleh dalam kehidupan ku, membuka mata pada dunia yang menyediakan banyak ilmu, memahami orang lewat apa yang ada disekelilingnya-apa yang dia anut dengan kepercayaannya-dan apa yang mengajarkannya, memahami bahwa pintu akan dibukakan jika kita mengetuk dan tangan akan dibuka jika kita meminta. terutama belajar untuk bersyukur dalam apapun yang boleh terjadi dalam hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar